Protes keras datang dari Martin Manurung, Wakil Ketua Baleg DPR RI dari Fraksi NasDem. Ia tak terima dengan pemberitaan Tempo yang mengangkat isu merger partainya dengan Gerindra. Bagi Martin, apa yang disajikan media itu, mulai dari podcast, tulisan, hingga ilustrasi sampul yang menampilkan Ketua Umum Surya Paloh, sudah melampaui batas. "Merupakan kebebasan yang kebablasan," ujarnya kepada para wartawan, Selasa lalu.
Martin tak cuma kesal. Ia menyoroti dampaknya, khawatir pemberitaan yang ia nilai sarat opini itu bakal menciptakan stigma buruk di mata publik. Ia pun menyinggung soal kode etik jurnalistik yang menurutnya dilanggar.
"Dalam situasi seperti ini," tegas Martin, "Dewan Pers, sebagai wasit di lapangan jurnalistik, sangat penting untuk masuk tanpa harus menunggu adanya pelaporan."
Ia mendorong evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat. Menurutnya, kritik terhadap media yang dianggap tidak profesional bukanlah upaya membungkam, melainkan cara untuk menjaga marwah pers itu sendiri.
Menanggapi hal itu, Pemimpin Redaksi Tempo Setri Yasra bersikap terbuka. Ia menghormati segala bentuk penilaian yang muncul. "Pelbagai penilaian tentang liputan Tempo, tentu menjadi hak semua pihak," kata Setri ketika dikonfirmasi di hari yang sama.
Artikel Terkait
FTSE Russell Pertahankan Status Pasar Berkembang Indonesia, Proyeksi ADB Optimistis
Menteri Haji Tegaskan Pemberangkatan Tetap Tepat Waktu, Biaya Avtur Ditanggung Negara
Polisi Buru Empat Pelaku Pembegalan Petugas Damkar di Gambir
MK Tegaskan BPK Satu-satunya Lembaga yang Berwenang Nyatakan Kerugian Negara