"Mudah-mudahan ke depan ada kerja sama yang lebih konkret, tidak hanya sementara. Harapannya pelabuhan bisa segera terbangun," harapnya.
Di sisi lain, Direktur Utama PCM, Muhammad Willy, punya pandangan sendiri. Baginya, kerja sama ini adalah kelanjutan dari upaya perusahaan untuk meningkatkan pemanfaatan aset.
"Ini bukan yang pertama. Sebelumnya juga sudah ada pemanfaatan aset dengan nilai sewa yang kompetitif," kata Willy.
Ia bahkan menyebut nilai sewa dalam kontrak kali ini cukup menggembirakan. Harganya disebut berada di atas pasar kawasan industri, bahkan mendekati dua kali lipat dari nilai appraisal. "Kita tidak ingin berada di bawah harga pasar," tegasnya.
Ke depan, peluang untuk menambah luas lahan atau memperpanjang durasi kerjasama masih terbuka. Semua akan disesuaikan dengan kebutuhan proyek Chengda.
"Saat ini 4 hektare untuk 6 bulan. Tidak menutup kemungkinan bertambah, dengan durasi maksimal sekitar 1 tahun, tergantung target pembangunan pabrik mereka di awal 2027," jelas Willy.
Soal material yang akan disimpan, Willy memastikan itu adalah peralatan dan bahan penunjang pembangunan pabrik. Ia juga menegaskan bahwa aspek keamanan dan lingkungan tetap jadi prioritas.
"Harus aman. Area juga akan dibatasi dengan pagar agar tidak melebar," pungkasnya.
Artikel Terkait
Hakim Kabulkan Praperadilan Indra Iskandar, Status Tersangka KPK Dinyatakan Tidak Sah
Pertamina dan PLN Sepakati Tarif Listrik untuk Proyek Panas Bumi Lahendong 15 MW
Mobil Ditinggalkan di Hutan Rembang Diduga Terkait Pencurian Traktor
Wakil Ketua Baleg DPR Kritik Pemberitaan Tempo Soal Merger, Serukan Intervensi Dewan Pers