Pertamina dan PLN Sepakati Tarif Listrik untuk Proyek Panas Bumi Lahendong 15 MW

- Selasa, 14 April 2026 | 13:30 WIB
Pertamina dan PLN Sepakati Tarif Listrik untuk Proyek Panas Bumi Lahendong 15 MW

Jumat lalu (10/4), ada penandatanganan yang cukup penting di sektor energi. Konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT PLN Indonesia Power sepakat soal tarif listrik dengan PT PLN untuk proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit. Kapasitasnya 15 MW dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2028.

Menurut Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, proyek ini akan memakai teknologi bottoming cycle. Intinya, teknologi ini memanfaatkan panas sisa dari pembangkit panas bumi yang sudah ada untuk menciptakan listrik tambahan. Cukar cerdas, bukan? Daripada terbuang percuma, sisa panas itu diolah lagi.

"Pemanfaatan teknologi bottoming memungkinkan potensi energi panas bumi yang masih tersedia dari operasi pembangkit eksisting dapat dimanfaatkan secara lebih optimal," jelas Yani dalam siaran pers yang diterima.

PLTP Lahendong sendiri bukan nama baru. Ia termasuk pionir di Indonesia Timur dan jadi pembangkit EBT terbesar di kawasan Sulawesi Utara dan Gorontalo. Saat ini, ada empat unit yang beroperasi dengan total daya mencapai 80 MW. Nah, proyek bottoming unit ini nantinya akan menambah lagi pasokan listrik dari lokasi yang sama.

Setelah urusan tarif ini beres, langkah selanjutnya bakal berjalan. Mulai dari pembentukan perusahaan patungan atau joint venture, pelaksanaan EPCC, hingga penyusunan perjanjian pembelian listrik (PPA). Rencananya sudah di depan mata.

Ini bukan proyek pertama kalinya. Sebelumnya, di penghujung Desember 2025, PGE dan PLN IP juga sudah mencapai kesepakatan serupa untuk PLTP Ulubelu Bottoming Unit di Lampung, dengan kapasitas lebih besar, 30 MW. Proyek itu merupakan pengembangan dari PLTP Ulubelu yang kapasitas totalnya 220 MW.

Kedua proyek ini sebenarnya bagian dari skema yang lebih besar. Ini adalah wujud sinergi antara dua BUMN raksasa, Pertamina dan PLN, untuk mengembangkan lebih lanjut energi panas bumi di 19 lokasi proyek yang sudah berjalan.

Sebagai informasi, PGE adalah bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy Pertamina. Fokusnya ya di panas bumi: eksplorasi, eksploitasi, sampai produksi. Jangkauannya luas.

Kini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi. Kapasitas terpasangnya besar, mencapai 1.932 MW. Rinciannya, 727 MW dioperasikan langsung oleh PGE, sementara 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama. Angka ini memberi gambaran betapa signifikannya peran mereka. Kapasitas terpasang dari wilayah kerja PGE menyumbang sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi nasional. Efeknya untuk lingkungan juga nyata, berpotensi mengurangi emisi CO2 hingga sekitar 10 juta ton per tahun. Sebuah kontribusi yang tidak main-main untuk target energi bersih Indonesia.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar