Dia lalu menambahkan, nada suaranya penuh keyakinan, “Kami tidak akan beristirahat, berhenti, atau menyerah. Sebaliknya, kami akan membiarkan medan perang berbicara sendiri.”
Memang, ketegangan di lapangan sudah memanas jauh sebelumnya. Israel menggencarkan serangan ke Lebanon awal Maret lalu, sebagai balasan atas rentetan roket yang diluncurkan Hizbullah. Padahal, gencatan senjata sebenarnya sudah berlaku sejak November 2024. Tapi faktanya, serangan mematikan Israel hampir terjadi tiap hari.
Di sisi lain, Hizbullah punya alasan sendiri. Mereka menyebut serangan tanggal 2 Maret itu adalah pembalasan. Dua hari sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dibunuh sebuah aksi yang mereka tuduh dilakukan AS dan Israel, di hari pertama perang AS-Israel di Iran.
Konsekuensinya sungguh berat. Pemboman dan invasi darat Israel di selatan Lebanon telah menewaskan sedikitnya 2.055 orang. Angka itu termasuk 165 anak-anak dan 87 petugas medis. Korban luka melonjak jadi lebih dari 6.500 orang. Sementara itu, sekitar 1,2 juta orang terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah mereka yang hancur.
Artikel Terkait
Hakim Kabulkan Praperadilan Indra Iskandar, Status Tersangka KPK Dinyatakan Tidak Sah
Pertamina dan PLN Sepakati Tarif Listrik untuk Proyek Panas Bumi Lahendong 15 MW
Mobil Ditinggalkan di Hutan Rembang Diduga Terkait Pencurian Traktor
Wakil Ketua Baleg DPR Kritik Pemberitaan Tempo Soal Merger, Serukan Intervensi Dewan Pers