Kondisi yang mencekam ini langsung memicu perilaku risk-off. Dalam bahasa yang lebih sederhana, investor jadi panik dan menghindari risiko. Mereka berbondong-bondong mencari aset yang dianggap lebih aman, atau yang sering disebut safe haven.
Akibatnya, aliran modal pun berbalik arah. Uang banyak mengalir kembali ke negara-negara maju. Fenomena ini tercermin jelas dari penguatan indeks dolar AS (DXY) dan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang sempat menyentuh level 4,5 hingga 4,6 persen. Situasinya jadi serba terbalik.
“Sebaliknya, aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami penurunan,” kata Destry.
Memang, di pasar domestik ada secercah harapan dengan adanya aliran masuk ke Surat Berharga Negara, pasar saham, dan SRBI. Tapi secara keseluruhan, ceritanya berbeda. Indonesia justru mencatat arus modal keluar yang cukup signifikan, sekitar Rp21 triliun. Angka yang tidak bisa dianggap remeh.
“Jadi artinya ini ada risiko yang menyebabkan ketidakpastian global,” ungkapnya, merangkum situasi. DXY naik, yield obligasi AS meroket, aliran modal ke negara berkembang merosot, dan tekanan terhadap nilai tukar berbagai mata uang pun semakin menjadi-jadi. Sebuah rangkaian efek domino yang bermula dari konflik ribuan kilometer jauhnya.
Artikel Terkait
Polres Pelabuhan Tanjungperak Gelar Patroli Cipkon, Kawasan Rawan Aman Kondusif
Jaksa Tuntut Eks Petinggi Pertamina 6,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi LNG
MK Gelar Purnabakti Hakim Anwar Usman, Sambut Dua Hakim Konstitusi Baru
Diskusi Publik Soroti Kebebasan Sipil dan Tantangan Demokrasi di Indonesia