Padahal, sebelumnya sempat ada secercah harapan. Negosiasi tingkat tinggi Washington-Tehran yang disebut-sebut sebagai kontak paling intens sejak 1979 sempat menunjukkan titik terang. Tapi nyatanya, jurang perbedaan masih terlalu dalam.
Wakil Presiden AS menyebut pihaknya sudah memberikan "penawaran terbaik dan terakhir".
Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, punya pandangan berbeda. Ia menilai AS justru mengubah tuntutan dan mengambil langkah konfrontatif lewat blokade itu. Dua kubu, dua cerita.
Dampak ke Inflasi dan Suku Bunga: Kekhawatiran Baru
Lonjakan harga minyak ini jelas jadi mimpi buruk bagi bank sentral di mana-mana. Kekhawatiran inflasi global kembali membesar. Data terbaru AS saja sudah menunjukkan indeks harga konsumen naik ke 3,3 persen pada Maret level tertinggi sejak pertengahan tahun lalu.
Dengan kondisi seperti ini, jangan harap suku bunga akan turun dalam waktu dekat. Bahkan, kebijakan moneter yang ketat bisa bertahan lebih lama dari perkiraan. Ini yang menarik: meski risiko geopolitik melonjak, harga emas justru tertekan. Kenapa? Karena ekspektasi suku bunga tinggi membuat aset non-yield seperti emas kehilangan daya tariknya.
Ke depan, selama konflik di Timur Tengah termasuk ketegangan Israel-Hezbollah belum usai, pasar akan tetap seperti kapal diombang-ambing gelombang. Volatilitas adalah menu harian. Dengan Selat Hormuz sebagai titik krusial, satu insiden kecil saja bisa mendorong harga minyak lebih tinggi lagi. Dan ujung-ujungnya, menyeret ekonomi dunia lebih dalam ke fase ketidakpastian yang melelahkan.
(SAW)
Artikel Terkait
Warga China Tewas Terseret Ombak di Pantai Cibobos Pandeglang
Imigrasi Amankan 346 WNA, Warga China Terbanyak dalam Operasi Wirawaspada 2026
Wisatawan China Tewas Terseret Ombak di Pantai Cikesal, Lebak
DPR Kritik Kinerja Kantor Staf Presiden di Era Prabowo