"Kami akan meminta kekuasaan khusus untuk memodernisasi kepolisian dan memperkuat keamanan," tegas Fujimori dalam sebuah wawancara.
Nama Fujimori tentu bukan nama baru. Dia adalah putri dari Alberto Fujimori, mantan presiden yang punya catatan kontradiktif: dihormati sebagian orang karena kebijakan kerasnya menghadapi pemberontak di era 90-an, tapi juga harus mendekam 16 tahun penjara karena kasus pelanggaran HAM dan korupsi. Kini, di tengah kekecewaan publik terhadap elite politik, nostalgia akan kepemimpinan sang ayah dimanfaatkan Keiko sebagai modal politik.
Namun begitu, di lapangan, ada juga suara sumbang yang tak bisa diabaikan. Sebagian warga sama sekali tak percaya pada semua kandidat. Seperti yang diungkapkan seorang pedagang pakaian di Lima, "Saya tidak ingin memilih siapa pun. Saya kecewa dengan semua yang berkuasa." Rasa jenuh dan apatis itu nyata adanya.
Pada akhirnya, hasil pemilu ini bukan cuma menentukan siapa yang akan memimpin Peru ke depan. Lebih dari itu, ini adalah cermin untuk melihat ke mana arah angin politik di Amerika Latin bergerak apakah benar-benar akan berbelok semakin ke kanan. Semuanya tergantung pada suara rakyat di hari Minggu nanti.
Artikel Terkait
Dua Nelayan Karimun yang Terseret Arus ke Malaysia Berhasil Dievakuasi Tim SAR
Hujan Deras dan Angin Kencang Tumbangkan Pohon dan Rusak Fasilitas di Ruas Tol Jakarta
Suroboyo 10K 2026 Dijadwalkan 7 Juni, Targetkan 3.000 Pelari
Polres Dharmasraya Amankan Lima Pria Terkait Peredaran Sabu di Pulau Punjung