Harga plastik di pasaran sedang melonjak, bahkan kabarnya bisa tembus hingga 50%. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, angkat bicara soal situasi yang cukup merepotkan ini. Menurutnya, kenaikan itu bakal jadi beban tambahan bagi warga Jakarta.
Pramono mengakui, aturan soal harga plastik sebenarnya bukan wewenang Pemprov DKI. Tapi, situasi ini memaksa mereka untuk berinovasi.
"Jadi harga plastik ini memang naik, dan harga plastik ini terus terang ketentuan ketentuannya bukan di Pemerintah DKI Jakarta," ujarnya.
"Tetapi tentunya kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi, harus ada substitusinya," lanjut Pramono saat berbincang dengan para wartawan di kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu lalu.
Lalu, solusi seperti apa yang bisa ditawarkan? Pramono punya usulan yang terdengar klasik. Di tengah gempuran kemasan modern, ia justru mengajak masyarakat kembali ke cara-cara lama.
"Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban. Maka untuk itu ya kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional, pakai bungkus daun pisang dan sebagainya," ucapnya.
Memang, apa penyebabnya hingga harga bisa melambung tinggi? Rupanya, gangguan impor bahan baku plastik jadi biang keroknya. Konflik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran disebut-sebut mengacaukan pasokan, yang ujung-ujungnya berdampak sampai ke pasar lokal.
Jadi, selain berupaya mencari pengganti, ajakan untuk menggunakan daun pisang itu bukan sekadar nostalgia. Itu respons praktis menghadapi gejolak harga yang sulit diprediksi.
Artikel Terkait
Prabowo Disambut Kenegaraan di Élysée, Penuhi Undangan Balasan untuk Macron
Pemerintah Targetkan Revitalisasi 71.744 Sekolah pada 2026, Prioritas untuk Daerah Bencana dan 3T
Prabowo Kunjungi Prancis, Gerindra Sebut Diplomasi Ofensif demi Konversi Keunggulan Nikel
Sekjen LMP Sesalkan Keraguan Publik soal Kinerja Satgas PKH: Rp10 Triliun Hasil Denda Hutan Sudah Disetor ke Negara