Di sisi lain, coba bandingkan dengan kondisi sekarang. Dulu, Istana terkesan tertutup. Sekarang, lewat dialog meja bundar, publik bisa lebih leluasa berinteraksi. Dulu, ada momen di mana tayangan diskusi seperti ILC tiba-tiba lenyap dari udara. Itu kan bentuk pengendalian pemberitaan yang nyata.
Yang paling kentara mungkin soal pemilu. Sistem sebelumnya kerap diwarnai isu penyimpangan. Sementara Pilkada 2024, di bawah pemerintahan ini, berjalan cukup lancar. Buktinya, partai penguasa seperti Gerindra justru kalah di banyak daerah. Itu kan indikasi kompetisi yang sehat.
Jadi, naik turunnya demokrasi itu sederhana: apakah kebijakan membuka atau malah menutup keran kebebasan?
Sebagai Menteri HAM, saya tegaskan: dalam satu setengah tahun kepemimpinan Pak Prabowo, tidak ada satu pun undang-undang atau kebijakan baru yang justru menyempitkan ruang demokrasi. Justru sebaliknya, kami berusaha mempertahankan dan memperbaiki ruang yang ada agar Indonesia bergerak menuju surplus kebebasan.
Apa yang kami lakukan? Fokusnya membuka sumbatan-sumbatan lama. Kami mendorong evaluasi kebijakan yang menghambat, mengupayakan RUU Kebebasan Beragama, merevisi UU HAM, dan berusaha mencabut SE Kapolri tentang ujaran kebencian itu.
Dengan fakta-fakta ini, argumen Mujani sebenarnya sudah terjawab. Saya menilai pengamatannya mengabaikan ilmu pengetahuan, dan mungkin lebih didorong oleh sentimen pribadi. Ilmu yang orisinal tak akan pernah kalah oleh analisis yang artifisial.
Natalius Pigai
Menteri HAM RI
Artikel Terkait
Persib Hadapi Ujian Berat dari Bali United di GBLA, Perjuangkan Puncak Klasemen
DPD Soroti Peran Strategis Perempuan Bentuk Karakter Bangsa di Era Digital
Satu Hilang Diterjang Arus Usai Kecelakaan di Jembatan Sungai Pelus Banyumas
Iran Sebut Kegagalan Perundingan dengan AS di Islamabad Wajar karena Tingginya Ketidakpercayaan