OJK Jabar Soroti Pentingnya Inovasi dan Jaringan untuk Dongkrak Inklusi Keuangan Syariah

- Minggu, 12 April 2026 | 03:45 WIB
OJK Jabar Soroti Pentingnya Inovasi dan Jaringan untuk Dongkrak Inklusi Keuangan Syariah

Sebelumnya, OJK Jabar sempat merilis kinerja sektor jasa keuangan hingga Triwulan I 2026. Secara umum, sektor ini menunjukkan ketahanan yang baik meski ada dinamika ekonomi global. Tapi kalau dilihat lebih detail, dominasi perbankan konvensional masih sangat kuat.

Berdasarkan kegiatan usaha, pangsa pasar aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan kredit bank konvensional masing-masing menyentuh angka di atas 88%. Sisanya, baru milik perbankan syariah. Artinya, masih ada jalan panjang yang harus ditempuh.

Data per Januari 2026 juga menunjukkan, perbankan didominasi oleh Bank Umum. Sementara peran Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan versi syariahnya (BPRS) masih terbatas. Meski begitu, aset gabungan BPR dan BPRS di Jabar ternyata tumbuh 4,92% secara tahunan, mencapai Rp34,24 triliun.

DPK-nya juga naik 6,33% jadi Rp22,98 triliun. Penyaluran kreditnya tumbuh hampir 6% menjadi Rp24,69 triliun. Tapi di balik angka pertumbuhan itu, ada catatan yang perlu diwaspadai.

Rasio NPL gross BPR dan BPRS justru memburuk, naik dari 11,86% di Januari 2025 menjadi 13,63% setahun kemudian. Laba mereka pun anjlok signifikan, turun 85,34% menjadi hanya Rp4 miliar pada Januari 2026. Ini jelas menjadi pekerjaan rumah tambahan di tengah upaya mendorong inklusi.

Jadi, tantangannya berlapis. Mulai dari membangun jaringan, menekan biaya, hingga menjaga kesehatan kredit di level mikro. Semuanya butuh strategi yang tak hanya inovatif, tapi juga tepat sasaran.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar