Namun begitu, komitmennya tak berhenti di kata-kata. Lulusan Akpol 96 ini menegaskan kembali upaya penegakan hukum yang konkret. Ia mengingatkan kolaborasi Polda Riau dengan Balai Taman Nasional Tesso Nilo dan BKSDA untuk membongkar sindikat perburuan liar. Edukasi masif penting, tapi tindakan tegas terhadap pelaku kejahatan lingkungan adalah keharusan.
Ajakan pun dilayangkannya. Herry Heryawan mengajak seluruh masyarakat Riau untuk berdiri tegak. Melawan siapa pun yang merusak alam, baik itu pemburu liar maupun perusak hutan. “Kita harus menegakkan kepala kita untuk menantang orang-orang itu,” serunya, menggebu.
Ia berharap tanggal 11 April akan dikenang sebagai tonggak baru. Sebuah titik awal di mana kesadaran kolektif benar-benar bergerak. Kehadiran beragam elemen masyarakat malam itu dari pejabat, tokoh adat, aktivis, hingga seniman ia anggap sebagai modal berharga.
“Mudah-mudahan hari ini kita membuat satu sejarah bagi semuanya. Kehadiran Bapak dan Ibu di sini adalah sumbangan besar bagi kita semua untuk terus memberikan keadilan kepada alam,” pungkasnya.
Festival itu sendiri berlangsung meriah. Wakapolda Riau Brigjen Hengky Haryadi dan sejumlah pejabat terlihat hadir. Acara dimeriahkan oleh aksi teatrikal, pembacaan puisi, dan lomba melukis, menciptakan sebuah harmoni antara seni dan pesan konservasi yang ingin disampaikan. Suasana tepian sungai pun menjadi saksi bisu sebuah ikrar untuk Bumi Lancang Kuning.
Artikel Terkait
AS Kirim Kapal Perang Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Iran Ancam Tindak Tegas
Gencatan Senjata AS-Iran Hanya Jeda, Pasar Global Masih Limbung
Konsumen Kendaraan Niaga Pilih Suku Cadang Berdasarkan Frekuensi Penggantian
Perundingan Nuklir AS-Iran di Pakistan Gagal Lagi, Vance Soroti Penolakan Komitmen Jangka Panjang