Kasus dugaan korupsi di Pertamina Energy Trading Limited (Petral) untuk periode 2008 hingga 2015 akhirnya memasuki babak baru. Kejaksaan Agung resmi menetapkan tujuh orang sebagai tersangka. Mereka diduga terlibat dalam sejumlah praktik curang, mulai dari pengondisian tender yang diatur sedemikian rupa hingga kebocoran informasi rahasia perusahaan. Alhasil, negara pun dirugikan.
Menurut penjelasan Dirdik Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, akar masalahnya ada pada proses pengadaan minyak mentah dan produk kilang yang sama sekali tidak kompetitif. Prosesnya sudah diatur dari dalam.
"Penyidik menemukan fakta perbuatan terdapat kebocoran informasi-informasi rahasia internal PES atau Pertamina Energy Services terkait mengenai kebutuhan minyak mentah dan gasolin serta informasi lainnya yang dilakukan oleh salah satu tersangka,"
kata Syarief dalam jumpa pers di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026).
Informasi sensitif itu, lanjutnya, kemudian dimanfaatkan untuk mengatur siapa pemenang tender dan bahkan bermain-main dengan harganya.
Di pusaran kasus ini, nama Mohammad Riza Chalid (MRC) mencuat sebagai beneficial owner dari beberapa perusahaan peserta tender. Diduga, Riza mengendalikan skema ini melalui tersangka lain, IRW, yang bertindak sebagai direktur di perusahaan-perusahaan miliknya.
"Saudara MRC melalui saudara IRW melakukan komunikasi dengan pejabat pengadaan baik di Petral maupun di Pertamina antara lain dengan saudara tersangka BBG, saudara IRW, saudara MLY, dan saudara TFK,"
jelas Syarief lebih lanjut.
Posisi IRW ini krusial. Dia berperan sebagai perantara yang menjembatani komunikasi antara pihak swasta dengan oknum internal Pertamina. Tugasnya antara lain menyampaikan informasi rahasia seperti Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan detail kebutuhan minyak.
"Komunikasi tersebut baik berupa pengkondisian tender, informasi nilai HPS, sehingga ada mark-up atau kemahalan harga karena pengadaan tersebut menjadi tidak kompetitif,"
tandasnya.
Tak sendirian, dugaan kejahatan ini melibatkan sejumlah orang dalam. Tersangka BBG, yang saat itu menjabat Manajer Niaga di Pertamina, bersama AGS selaku Head of Trading PES periode 2012-2014, diduga aktif memfasilitasi proses pengadaan yang sudah dikondisikan itu.
Di sisi lain, ada juga MLY yang berstatus sebagai Senior Trader Petral. Perannya, bersama NRD selaku Crude trading manager di PES dan TFK yang menjabat VP ISC PT Pertamina, adalah menyetujui dan menjalankan mekanisme pengadaan yang melenceng dari ketentuan.
Skema ini berjalan bertahun-tahun. Setelah tender diatur sedemikian rupa antara Petral dan perusahaan-perusahaan milik Riza Chalid untuk pasokan produk kilang minyak 2012-2014, dampaknya langsung terasa.
Rantai pasok jadi berbelit dan lebih panjang. Imbasnya, harga pengadaan khususnya untuk Gasolin 88 (Premium) dan Gasolin 92 membubung tinggi. Kerugian negara pun tak terelakkan.
"Proses tender atau pengadaan minyak mentah dan produk kilang tersebut menyebabkan rantai pasokan yang lebih panjang dan harga yang lebih tinggi," ungkap Syarief.
"Terutama untuk produk Gasoline 88 atau kita kenal dengan Premium 88 dan Gasoline 92. Sehingga menimbulkan kerugian bagi PT Pertamina," imbuhnya.
Ketujuh tersangka itu kini terjerat Pasal 2 dan 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sementara untuk besaran kerugian negaranya, penyidik masih duduk bersama BPKP untuk menghitungnya sampai detail. Angkanya belum keluar, tapi dipastikan tidak kecil.
Berikut daftar lengkap ketujuh tersangka:
- BBG, Manajer Niaga Direktorat Pemasaran dan Niaga PT Pertamina.
- AGS, Head of Trading Pertamina Energy Services (PES) tahun 2012-2014.
- MLY, Senior Trader Petral tahun 2009-2015.
- NRD, Crude trading manager di PES.
- TFK, VP ISC pada PT Pertamina.
- MRC, Beneficial Owner perusahaan peserta tender.
- IRW, Direktur perusahaan-perusahaan milik MRC.
Artikel Terkait
Ketua Fraksi Golkar Akui Pelayanan Haji 2026 Meningkat Signifikan
Wakil Ketua Komisi XIII DPR: Penggunaan APBN untuk Bantuan Kurban Presiden Adalah Praktik Lazim
Dua Anak Tenggelam di Sungai Comal Usai Bantu Bersihkan Jeroan Kurban
Israel Tewaskan Komandan Baru Sayap Militer Hamas dalam Serangan di Gaza