Jakarta – Peluang untuk tenaga kerja terampil Indonesia di luar negeri sedang terbuka lebar. Menyikapi hal ini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) punya strategi khusus: memperkuat peran Career Development Center (CDC) di kampus-kampus.
Faktanya, banyak negara maju seperti Jepang, Jerman, Australia, hingga kawasan Timur Tengah dan Singapura sedang kelimpungan. Mereka kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor vital. Mulai dari perawatan lansia (caregiver), manufaktur, konstruksi, sampai bidang teknologi digital. Nah, di sinilah kesempatan kita.
Menurut Wakil Menteri Kemendiktisaintek, Prof. Fauzan, Indonesia sedang menikmati fase bonus demografi. Artinya, jumlah penduduk usia produktif kita sangat dominan. Kondisi ini, kata dia, adalah momentum emas untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja kita di kancah global.
“Peluangnya sangat banyak dan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Selama ini, talenta global untuk pekerja terampil banyak diisi dari India. Sekarang, saatnya kita ambil porsi yang lebih besar,” tegas Fauzan.
Ia menyampaikan hal itu dalam sebuah forum diskusi yang membahas peluang kerja luar negeri melalui penguatan CDC.
Tak hanya soal peluang kerja, kehadiran pekerja Indonesia di mancanegara juga punya efek berantai yang positif. Menurut Prof. Fauzan, hal ini bisa mendorong terjadinya ‘brain circulation’ atau sirkulasi ilmu dan pengalaman, yang pada akhirnya memperkuat fondasi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Dukungan untuk penguatan CDC ini juga datang dari Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia. Dirjen Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri, Dwi Setiawan Susanto, menilai kolaborasi antara CDC di kampus dengan ‘migrant center’ harus dipererat.
“Kedua gagasan ini harus kita koneksikan. Tujuannya jelas, agar kita bisa mengisi pasar tenaga kerja di luar negeri dengan lebih baik. Kerja sama ini akan menghasilkan talenta global yang tidak hanya bertambah jumlahnya, tapi juga kualitasnya mumpuni,” papar Dwi Setiawan.
Di sisi lain, peran lulusan perguruan tinggi dinilai sangat krusial. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek, Khairul Munadi, menekankan bahwa mereka adalah penggerak ekonomi, baik di dalam maupun luar negeri.
“Ketika lulusan terserap pasar kerja, otomatis ekonomi keluarga mereka membaik. Pada gilirannya, ini akan menyumbang pada perbaikan ekonomi Indonesia secara keseluruhan,” ujar Khairul.
Tapi tentu, persiapan tidak bisa setengah-setengah. Dari sisi akademik, penyesuaian kurikulum menjadi kunci. Beny Bandanadjaja, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemendiktisaintek, menegaskan perlunya melibatkan dunia industri dalam menyusun standar pembelajaran.
“Standarisasi harus melibatkan pemangku kepentingan, yaitu industri dan dunia usaha. Outcome-nya, lulusan harus mampu mengerjakan detail pekerjaan yang dibutuhkan. Tugas pendidik adalah memastikan lulusannya bisa bekerja dengan cepat. Ini menjadi Indikator Kinerja Utama (IKU) untuk menghasilkan lulusan dengan tingkat kebekerjaan tinggi,” jelas Beny.
Pada akhirnya, penguatan CDC diharapkan bisa melampaui fungsi awalnya sebagai sekadar layanan karier. Ia harus bertransformasi menjadi pusat pengembangan kompetensi global bagi mahasiswa dan alumni. Kampus pun didorong untuk membangun pusat keberkerjaan luar negeri yang terintegrasi.
Dengan langkah-langkah konkret ini, harapannya jelas: tenaga kerja Indonesia tak hanya siap bersaing secara profesional, tetapi juga mampu mengambil peran lebih besar dalam memenuhi kebutuhan pasar global yang terus membesar. Momentum bonus demografi ini tidak boleh terlewat begitu saja.
Artikel Terkait
Prabowo dan Macron Sepakati Penguatan Kerja Sama Pertahanan hingga Energi Bersih di Paris
INDODAX Salurkan 15 Hewan Kurban untuk 584 Keluarga Terdampak Bencana di Aceh
Presiden Prabowo Disambut Upacara Kenegaraan di Les Invalides, Lanjutkan Pertemuan Bilateral dengan Macron di Istana Elysee
Esensi Ibadah Kurban: Dari Ujian Keikhlasan Habil dan Qabil hingga Perintah Syariat bagi yang Mampu