Presiden Prabowo Subianto angkat bicara soal bahaya baru yang mengintai di ruang digital. Dalam sebuah rapat kerja pemerintah di Istana, Rabu lalu, dia mewanti-wanti maraknya hoaks dan fitnah yang diedarkan lewat media sosial. Yang bikin resah, semua itu kini dimungkinkan oleh teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Prabowo sendiri mengaku kerap menjadi korban. Dia kaget bukan main menemukan video dirinya di internet yang tampak begitu meyakinkan.
"Saya ini, suara saya jelek, saya nggak bisa nyanyi," ujarnya.
"Ada di YouTube, Prabowo nyanyi, suaranya bagus banget. Saya kaget. Saya bilang, oh boleh juga nih. Kalau menguntungkan boleh, tapi kalau tidak menguntungkan bagaimana?"
Tak cuma nyanyi, dia juga menemukan dirinya seolah-olah fasih berpidato dalam bahasa asing. "Ada lagi, saya pidato dalam bahasa Mandarin. Ada lagi, saya pidato dalam bahasa Arab," tuturnya. Semua itu, menurutnya, adalah hasil editan AI yang sangat sulit dibedakan dari aslinya.
Di sisi lain, Presiden mengingatkan soal modus operandi lain yang tak kalah berbahaya: akun 'ternak'. Dengan teknologi sekarang, satu orang bisa mengendalikan ratusan bahkan ribuan akun palsu. Alatnya pun katanya tidak terlalu mahal.
"Jadi, Saudara-saudara, yang agak repot," lanjut Prabowo. "Mungkin 100 orang, 200 orang, bisa bikin heboh."
Inilah yang dalam dunia intelijen dikenal sebagai 'echo chamber', ruang gema yang bisa memanipulasi opini publik secara masif. Menurutnya, cara-cara seperti ini sudah jadi senjata baru dalam perang modern.
"Dulu kirim pasukan, kirim bom. Sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan socmed, dengan fitnah, hoaks," paparnya.
Namun begitu, Prabowo tak cuma mengeluh. Dia meminta seluruh jajaran pemerintahannya untuk tetap waspada. Setiap informasi yang beredar, terutama di media sosial, harus disikapi dengan hati-hati.
"Nggak, ini mau saya sampaikan, ini masalah bagi kita. Kita waspada," tegasnya.
Terhadap fitnah dan hujatan yang mungkin muncul, dia punya cara pandang sendiri. "Anggaplah itu sebagai peringatan supaya kita waspada, iya kan," kata Prabowo menutup pernyataannya. Pesannya jelas: di era di mana kebenaran mudah dipelintir, kewaspadaan adalah tameng utama.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Bantah Penggunaan APBN untuk Sapi Kurban Presiden Langgar Hukum dan Syariat
Polisi Bongkar Jaringan Curanmor Terintegrasi Peredaran Sabu dan Obat Keras di Jakarta Timur, 8 Tersangka Diamankan
Polres Karawang Periksa Empat Saksi Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Ayah Kandung pada Anak
ERT NHM Diterjunkan Bantu Evakuasi Korban Erupsi Gunung Dukono, Tiga Pendaki Dinyatakan Meninggal