Lantas, apa yang memicu jeda ini? Sebelumnya, Trump mengumumkan penangguhan serangan dengan satu syarat utama: Iran harus membuka Selat Hormuz. Pengumuman itu dia sampaikan lewat akun X Gedung Putih.
“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta agar saya menunda penggunaan kekuatan destruktif yang akan dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman atas Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!”
Trump terlihat optimis. Dia yakin kesepakatan dengan Iran bisa diraih dalam waktu dekat. Bahkan, dia sudah membicarakan soal perdamaian jangka panjang di kawasan.
“Kami sudah sangat dekat,” jelasnya mengenai kesepakatan definitif dengan Iran yang katanya akan membawa perdamaian di Timur Tengah. Proposal 10 poin dari Iran disebutnya sebagai dasar negosiasi yang bisa dijalankan. Hampir semua poin perselisihan lama konon sudah disepakati. Periode dua minggu ini, bagi Trump, adalah waktu untuk menyelesaikan dan merampungkan semuanya.
Jadi, kini ada jeda. Dua minggu penuh ketegangan dan harapan. Dua pihak bersiap, satu dengan pelatuk yang masih terpasang, yang lain dengan harapan diplomasi akhirnya berbicara lebih lantang.
Artikel Terkait
Program Air Bersih Perindo Ubah Hidup Warga di Dusun Watuliwung, Sikka
Polri Ungkap Modus Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi dalam Operasi Dua Tahun
Trump Umumkan Gencatan Senjata Dua Pekan dengan Iran, Bergantung Pembukaan Selat Hormuz
Dua Pencopet di Stasiun Jatinegara Ditangkap Berkat Rekaman Warga