Yang lebih mencengangkan adalah data suhu. Analisis citra termal menunjukkan angka yang melonjak drastis. Dari sekitar 247 derajat Celcius pada September 2024, suhu kawah tercatat mencapai 463 derajat Celcius pada awal April 2026. Area anomali panasnya pun meluas, membentuk pola melingkar di seputar dinding kawah.
Dari sisi kegempaan, catatan sejak pertengahan Maret juga menunjukkan peningkatan. Ratusan gempa embusan dan frekuensi rendah terjadi secara fluktuatif, dengan tren yang jelas naik di akhir bulan. Semua data ini, ditambah dengan hasil pemantauan deformasi, mengarah pada satu kesimpulan: ada peningkatan tekanan gas magmatik dan pergerakan magma ke kedalaman yang lebih dangkal.
"Potensi bahaya saat ini berupa erupsi yang dapat menghasilkan abu vulkanik, hujan lumpur, hingga lontaran material pijar di sekitar puncak," jelas Lana Saria dalam laporannya.
Ia juga memperingatkan soal embusan gas vulkanik berkonsentrasi tinggi dan potensi hujan abu yang jangkauannya tergantung arah angin.
Namun begitu, penting untuk dicatat bahwa status Gunung Slamet sampai saat ini belum berubah. Masih tetap di Level II atau Waspada. Status itu sendiri sudah dinaikkan dari Level I sejak Oktober 2023 lalu.
PVMBG pun mengimbau dengan tegas. Masyarakat, pendaki, dan wisatawan diminta untuk sama sekali tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah puncak. Pemantauan intensif terus dilakukan, dan status akan ditinjau ulang jika ada perubahan signifikan.
Gunung tertinggi di Jawa Tengah ini memang sedang tidak biasa-biasa saja. Semua mata kini tertuju pada data dan laporan dari pos pengamatan, menunggu perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
Empat Pekerja Tewas di Bak Penampungan Air Proyek Jagakarsa
Andre Rosiade Gelar Turnamen Padel Gratis untuk Pererat Olahraga Keluarga
Wakil Ketua MPR Soroti Darurat Pemahaman Bacaan di Kalangan Anak Indonesia
Pria 27 Tahun Selamat Usai Dievakuasi dari Sumur di Tanah Datar