Target Pertumbuhan 5,4% Terancam Gejolak Harga Minyak dan Defisit APBN

- Sabtu, 04 April 2026 | 07:45 WIB
Target Pertumbuhan 5,4% Terancam Gejolak Harga Minyak dan Defisit APBN

Menurut M. Rizal Taufikurrahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, target itu masih cukup realistis. Tapi dia pesimis untuk dorongan ke level 6%.

“Target 5,4% masih cukup realistis, tetapi dorongan ke 6% menjadi makin berat jika kebijakan efisiensi menahan permintaan domestik,” jelas Rizal kepada Bisnis, Jumat (3/4/2026).

Dia melihat pemerintah sedang dihadapkan pada dilema klasik: menjaga disiplin anggaran atau memacu pertumbuhan. Ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan 8% pada 2029 pun jadi pertimbangan berat.

Memang, peran fiskal sudah mulai digenjot sejak kuartal I/2026, terutama untuk menyambut momentum libur Idulfitri. Buktinya, defisit APBN hingga Februari 2026 sudah membengkak jadi Rp135,7 triliun, melonjak 342,4% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Tapi jangan lupa, beban belanja wajib seperti pembayaran bunga utang juga menganga. Per Februari, angkanya sudah nyaris Rp100 triliun.

Bagi Rizal, jalan paling masuk akal adalah menjaga kredibilitas fiskal. Caranya dengan mengalihkan belanja ke sektor-sektor yang punya efek pengganda tinggi.

“Dalam konfigurasi saat ini, 5,4% lebih kredibel. Sementara 6% membutuhkan dorongan kebijakan yang jauh lebih kuat di semester II,” katanya. “Seperti bansos tepat sasaran, infrastruktur yang cepat dieksekusi, dan perlindungan daya beli seraya memangkas belanja administratif yang efek pertumbuhannya rendah.”

Pandangan lain datang dari Deni Friawan, ekonom CSIS. Dia justru lebih skeptis. Menurutnya, mencapai 5,4% saja sudah sulit, apalagi lebih.

“Wajar OECD kemarin merevisi pertumbuhan [ekonomi Indonesia] hanya 4,8%. Kalau 5,4% agak jauh kondisi sekarang, less likely bisa tercapai,” terang Deni. “Kecuali konflik ini tahu-tahu besok sudah selesai. Itu saja susah mencapai 5,4% menurut saya.”

Tekanan dari harga minyak yang tinggi, menurutnya, akan menggerus daya beli. Ujung-ujungnya, konsumsi dan investasi bakal melambat. Situasinya memang rumit. Di satu sisi, APBN harus menahan guncangan. Di sisi lain, mesin pertumbuhan ekonomi tak boleh kehilangan tenaga. Jalan tengahnya belum jelas, dan waktu terus berjalan.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar