Jakarta - BMKG kembali mengeluarkan peringatan. Fenomena El Nino yang kuat diprediksi akan melanda Indonesia. Bagi kita di Nusantara, ini berarti ancaman musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya.
Prediksi ini jelas harus jadi alarm. Semua pihak perlu bersiap, beradaptasi, untuk meminimalisir dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Di belahan dunia lain, efek El Nino bisa berwujud sebaliknya: hujan yang tak henti-henti dan banjir. Namun bagi kita, kekeringanlah yang selalu jadi momok.
Sebetulnya, ini bukan pengalaman pertama. Kita pernah merasakan ganasnya El Nino kuat pada 1997-1998 dan 2015-2016. Dua periode itu meninggalkan kenangan pahit: kekeringan meluas, krisis air bersih, sampai gangguan produksi pangan yang bikin was-was.
Nah, yang bakal datang tahun ini disebut-sebut bakal lebih dahsyat. Beberapa peneliti bahkan menyebutnya "Godzilla", istilah yang cukup menggambarkan betapa besarnya dampak yang mungkin kita hadapi.
Lalu, sektor mana yang paling harus siaga? Kehutanan dan perkebunan, terutama yang berada di lahan gambut. Ini masalah serius.
Saat kemarau ekstrem datang, gambut yang mengering ibarat bubuk mesiu. Sangat mudah terbakar, cepat menjalar, dan sulit dipadamkan. Bahayanya bukan cuma untuk warga sekitar, tapi asapnya bisa melintas batas, mengganggu negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Bak Api dalam Sekam
Kenapa gambut begitu rentan? Materialnya berasal dari serasah tumbuhan yang membusuk dalam kondisi basah. Ketika kering, ia berubah seperti tembakau kering sangat mudah tersulut. Parahnya, api di gambut seringkali bersifat semu. Permukaannya mungkin tampak normal, padahal di bawah tanah, bara terus membara layaknya api dalam sekam. Ini yang membuat pemadaman jadi sangat sulit.
Tapi jangan pesimis dulu. Bangsa ini punya pengalaman berulang menghadapi bencana asap karhutla. Memang, upaya mitigasi tak selalu berhasil mulus. Tapi dari sana, kita juga punya catatan langkah-langkah yang terbukti efektif. Pengalaman itulah yang harus jadi bekal berharga sekarang.
Instrumen Mitigasi yang Harus Dicek
Menghadapi Godzilla El Nino, berbagai praktik baik pencegahan kebakaran di lahan gambut harus dihidupkan kembali. Pertama, soal sekat kanal atau canal blocking. Sekat ini, baik yang dari kayu maupun beton, butuh perawatan rutin. Karakter tanah gambut yang asam bisa mempercepat kerusakan akibat korosi.
Kalau sekat rusak, air di lahan gambut akan mengalir keluar tak terkendali. Alhasil, di musim kemarau, kanal yang bocor justru mempercepat pengeringan. Harus segera dibenahi.
Kedua, titik sumur bor. Banyak yang dibangun dalam sepuluh tahun terakhir. Nah, kondisi dan aksesnya harus dipastikan baik. Sumur bor yang rusak harus diperbaiki sekarang juga, sebelum benar-benar dibutuhkan saat kebakaran.
Ketiga, stasiun pemantauan kedalaman air tanah. Data real-time dari stasiun ini crucial untuk prediksi dini daerah rawan kebakaran. Harus berfungsi dan bisa dipantau dari jarak jauh.
Ketiga instrumen tadi banyak dibangun di era pemerintahan Jokowi, lewat Badan Restorasi Gambut (BRG) yang kemudian jadi BRGM. Mereka bekerja sama dengan banyak pihak: pemda, kampus, LSM, hingga BNPB. Hasilnya ribuan tepatnya 13.816 unit sumur bor hanya dalam periode 2017-2019. Alat-alat itu terbukti membantu menekan kebakaran.
Sekarang, di era pemerintahan baru, tugas BRGM resmi berakhir. Tanggung jawab restorasi gambut beralih ke tiga kementerian: Kehutanan, Lingkungan Hidup, serta Kelautan dan Perikanan.
Jangan Mulai dari Nol
Nah, di titik inilah pemerintah perlu bergerak cepat. Idealnya, segera ada inventarisasi menyeluruh terhadap semua instrumen pencegah kebakaran yang sudah terpasang. Jangan sampai upaya mitigasi kita mulai dari nol lagi. Pelibatan TNI dan Polri juga penting, untuk pencegahan di lapangan.
Kabar baiknya, kita masih punya waktu. Saat ini, hujan masih sesekali turun di beberapa wilayah, termasuk di area gambut. Air yang masih ada ini harus dikonservasi, dijaga, untuk membasahi gambut sebelum kemarau panjang benar-benar tiba.
Momentum ini tak boleh disia-siakan. Laporan dari Riau dan Sumatera sudah menyebutkan titik api mulai muncul. Kerugian akan jauh lebih besar jika pencegahan terlambat.
Pada akhirnya, bangsa yang bisa belajar dari pengalamanlah yang akan bertahan. Terutama di tengah perubahan iklim global yang kini sudah jadi keniscayaan.
") Dr. Destika Cahyana, SP., M.Sc adalah Peneliti di Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Artikel Terkait
Vonis Mantan Wamenaker Noel di Kasus Pemerasan Sertifikat K3 Dibacakan Pekan Depan
Mantan Wamenaker Noel Minta Putusan Adil dan Manusiawi, Akui Terima Uang dan Motor Ducati
Iran Gantung Pria yang Dituduh Tembaki Aparat saat Unjuk Rasa Antipemerintah di Isfahan
Satpol PP Bekasi Perketat Pengawasan Usai Mobil Viral Melintas di Jogging Track Alun-alun