Di sisi lain, kebutuhan mendesak sudah mulai teridentifikasi. Untuk wilayah Sirenja, diperlukan alat berat guna menormalisasi aliran sungai. Sementara di Balaesang, pembuatan bronjong dan perbaikan drainase menjadi prioritas.
“Untuk kebutuhan mendesak di wilayah Sirenja berupa alat berat dan normalisasi sungai, serta di wilayah Balaesang membutuhkan pembuatan bronjong dan drainase,” ucap Asbudianto.
Menanggapi situasi ini, Bupati Donggala Vera Elena Laruni langsung bergerak. Ia memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum untuk berkoordinasi dengan BPBD setempat. Tujuannya jelas: mengerahkan alat berat ke lokasi terdampak, khususnya di Sirenja.
“Memang laporan yang masuk, hujan sudah berhenti dan air telah surut,” kata Vera.
“Tapi penggunaan alat berat di Sirenja penting dalam upaya normalisasi sungai sehingga ke depan tidak terjadi kembali banjir tersebut,” tegasnya.
Saat ini, koordinasi antara BPBD Sulteng dan Pusdalops Kabupaten Donggala terus dilakukan. Mereka berupaya mencari langkah-langkah terbaik untuk menangani dampak banjir dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Artikel Terkait
Banjir Rendam 552 Rumah di Donggala, Dua Kecamatan Terdampak
Penyelundupan 202 Reptil Hidup ke Dubai Digagalkan di Soekarno-Hatta
AS dan Iran Saling Klaim Soal Nasib Jet Tempur F-15 yang Jatuh
Pegawai Tangerang dan Tangsel Mulai WFH Setiap Jumat Pekan Depan