Penyelidikan KPK terkait kasus di Ditjen Bea Cukai Kemenkeu terus bergulir. Setelah kemarin memeriksa pengusaha rokok Liem Eng Hwie, giliran Martinus Suparman yang dipanggil untuk dimintai keterangan hari ini. Dia adalah pengusaha rokok asal Pasuruan, Jawa Timur.
Menurut Jubir KPK Budi Prasetyo, pemeriksaan ini bertujuan untuk melacak alur pengurusan cukai. Namun begitu, ada satu hal lain yang juga sedang didalami penyidik: temuan uang di sebuah 'safe house' di Ciputat.
"Ini sekaligus untuk meng-kroscek ya terkait dengan temuan penyidik dalam kegiatan penggeledahan di salah satu 'safe house' yang berlokasi di Ciputat, Tangerang Selatan," jelas Budi, Rabu (1/4/2026).
"Bahwa dari uang-uang yang ditemukan dalam safe house tersebut, diduga di antaranya berasal dari pengurusan cukai. Di mana, pengurusan cukai salah satunya adalah dari para perusahaan rokok," tuturnya.
Sebenarnya, tiga pengusaha rokok sudah dipanggil sejak Selasa kemarin. Cuma, yang datang cuma Liem Eng Hwie. Dan untuk pemeriksaan hari ini, hanya Martinus Suparman yang muncul.
Nama Martinus Suparman sendiri bukan hal baru. Dia pernah disebut dalam kasus gratifikasi yang menjerat mantan Kepala Bea Cukai Yogyakarta, Eko Darmanto. Kala itu, Martinus disebut memberikan uang sebesar Rp 930 juta kepada Eko.
Kasus yang sedang diusut KPK ini berawal dari sebuah operasi tangkap tangan. Intinya, ada dugaan suap terkait importasi barang yang melibatkan dua produsen rokok besar dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sampai saat ini, sudah tujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka.
Mereka adalah Rizal (Direktur P2 DJBC), Sisprian Subiaksono (Kasubdit Intel P2 DJBC), Orlando (Kasi Intel DJBC), Jhon Field (Pemilik PT Blueray), Andri (Ketua Tim Dokumen Importasi PT Blueray), Dedy Kurniawan (Manajer Operasional PT Blueray), dan Budiman Bayu Prasojo (Kasi Intelijen Cukai P2 DJBC).
Yang cukup mencengangkan, nilai barang bukti yang berhasil disita KPK. Angkanya fantastis, lebih dari Rp 40 miliar. Barangnya macam-macam, mulai dari uang tunai dalam berbagai mata uang asing, emas, jam tangan mewah, sampai mobil.
Penyidikan masih berlangsung. Dan dari pola pemanggilan para pengusaha ini, terlihat KPK sedang berusaha menyambung titik-titik yang masih terputus.
Artikel Terkait
PBNU Kecam Kekerasan Seksual di Padepokan Pekalongan, Desak Proses Hukum Tuntas
Banjir Bandang dan Longsor di Bone Bolango, Seorang Warga Hanyut ke Laut Sebelum Berhasil Diselamatkan
Polisi Ajukan Red Notice ke Interpol untuk Buru Otak Pengiriman Pekerja Migran Ilegal ke Kamboja
Ratusan Wali Santri Jemput Anak dari Ponpes Pedang Ati usai Kasus Pencabulan Pimpinan Terbongkar