Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Perlombaan Nuklir di Kawasan

- Rabu, 01 April 2026 | 14:15 WIB
Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Perlombaan Nuklir di Kawasan

Ancaman nuklir di Timur Tengah kian nyata. Konflik yang berkecamuk sejak akhir Februari, dengan serangan AS dan Israel ke Iran, telah menyentuh fasilitas nuklir di kedua belah pihak. Situasinya makin panas.

Presiden AS Donald Trump berdalih perang itu untuk menghalangi Iran memiliki bom nuklir. Tapi, banyak ahli justru khawatir. Langkah ini bisa jadi bumerang.

Selama ini, senjata nuklir dianggap sebagai tameng. Prinsipnya sederhana: punya senjata pamungkas itu, negara lain akan berpikir ulang untuk menyerang. Risikonya terlalu mengerikan.

Lihat saja Korea Utara. Rezimnya dianggap kebal karena punya rudal nuklir. Di sisi lain, Ukraina jadi contoh pilu. Tahun 1994, mereka sepakat menyerahkan gudang nuklir terbesar ketiga di dunia. Imbalannya? Jaminan keamanan dari Rusia, AS, dan Inggris. Sekarang, banyak yang bertanya-tanya. Andai saja senjata itu masih ada, mungkin invasi Rusia takkan pernah terjadi.

Punya Kemampuan, Tapi Belum Jadi Bom

Iran sendiri selama ini berada di zona abu-abu yang disebut "latensi senjata nuklir". Artinya, secara teknis mereka mampu membuat bom, tapi belum benar-benar merakitnya.

Rupal Mehta, seorang profesor ilmu politik di AS, menulis komentar untuk London School of Economics awal Maret lalu. Ia menggambarkan dilema Teheran.

Baru pekan ini, politisi Iran mengancam akan keluar dari perjanjian non-proliferasi (NPT) yang sudah berusia puluhan tahun. Perjanjian itu ditandatangani 191 negara, termasuk Iran sendiri.

Perang ini mengubah peta keamanan regional. Dan perubahan itu bisa mendorong negara-negara lain untuk ikut-ikutan mempertimbangkan opsi nuklir.

"Ada sejumlah faktor yang akan mendorong negara-negara Teluk mendekati senjata nuklir," kata Kelsey Davenport dari Arms Control Association di Washington.

Negara-negara Teluk terjepit. Di satu sisi ada ambisi Iran dan Israel, di sisi lain mereka mulai meragukan jaminan keamanan dari Amerika Serikat.

"Meski begitu, kecil kemungkinan negara-negara tersebut akan langsung berlomba membuat bom. Hambatan teknis dan politiknya sangat besar," lanjut Davenport.

Para pemimpin di sana kemungkinan besar akan menunggu dulu. Mereka ingin melihat bagaimana konflik berakhir dan seperti apa rezim Iran nantinya. "Namun jelas, konflik ini akan mendorong pemikiran tentang perlunya senjata nuklir demi keamanan."

Lalu, Siapa Saja yang Berminat?

Arab Saudi sudah mulai melangkah. Tahun lalu, mereka mengambil langkah awal menuju latensi nuklir. Putra Mahkota Mohammed bin Salman pernah bilang, jika Iran punya bom, Saudi juga harus punya. Usai kunjungannya ke AS November lalu, kabarnya ia membawa pulang draf kesepakatan yang membuka peluang pengayaan uranium.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar