Ancaman ini jelas menambah ketegangan yang sudah tinggi, menciptakan ketidakpastian baru bagi pasokan dan stabilitas kawasan.
Hantu Inflasi Kembali Mengintai
Kekhawatiran yang lebih luas juga mulai muncul. Guncangan energi ini berpotensi memicu tekanan inflasi di berbagai negara. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Data terbaru yang dirilis Selasa menunjukkan inflasi kawasan Euro melonjak ke 2,5 persen pada Maret, naik dari 1,9 persen di bulan sebelumnya. Angka ini sudah melampaui target Bank Sentral Eropa yang sebesar 2 persen.
Di Amerika Serikat sendiri, harga bensin rata-rata nasional telah menembus USD4 per galon untuk pertama kalinya sejak 2022. Ini pukulan bagi konsumen, meskipun AS selama ini diharapkan lebih kebal karena statusnya sebagai pengekspor energi bersih.
Prospek inflasi yang melonjak di mana-mana ini memicu spekulasi bahwa banyak bank sentral akan terpaksa mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Imbasnya sudah terasa: imbal hasil obligasi pemerintah meroket, sementara pasar saham tertekan.
Lihat saja S&P 500. Indeks itu telah jatuh lebih dari lima persen dalam sebulan terakhir, mengakhiri kuartal pertama dengan suram. Awal tahun ini, banyak yang berharap pada ekonomi yang kuat dan potensi penurunan suku bunga The Fed. Kenyataannya? Saham AS justru mencatat kuartal terburuk sejak akhir 2022. Pasar, rupanya, harus kembali berhadapan dengan realitas yang keras.
Artikel Terkait
Trump Teken Perintah Eksekutif Batasi Ketat Pemungutan Suara Lewat Pos
Kondisi Psikologis Korban Penyiraman Air Keras dari KontraS Dilaporkan Stabil
Polisi Tangkap Pengedar 100 Vape Berisi Narkoba Etomidate di Tanjung Priok
Yamaha Imbau Pemeriksaan Motor Usai Mudik Lebaran