Fathul memaparkan, pemanasan intens di pagi hari justru bisa memicu tumbuhnya awan Cumulonimbus secara signifikan.
BMKG juga mengingatkan soal angin. Mereka mengedukasi masyarakat untuk bisa membedakan antara angin kencang biasa dengan puting beliung. Angin disebut kencang jika kecepatannya lebih dari 45 km/jam. Sementara puting beliung, itu punya ciri khas pusaran spiral yang merusak.
Lalu, bagaimana kita harus menyikapinya? BMKG punya sejumlah imbauan praktis. Pertama, jaga hidrasi. Minum air putih lebih banyak untuk mengantisipasi dehidrasi. Kedua, lindungi diri. Pakai sunscreen, topi, atau payung saat harus keluar rumah di siang bolong.
Ketiga, hati-hati dengan lingkungan sekitar. Saat angin kencang datang, jangan sekali-kali berteduh di bawah pohon besar, dekat papan reklame, atau bangunan yang terlihat rapuh. Keempat, jaga imunitas tubuh. Perubahan cuaca yang fluktuatif dari panas ke hujan rentan bikin tubuh drop, memicu flu dan kelelahan.
Intinya, masyarakat diharapkan tetap waspada dan rajin memantau informasi cuaca terbaru lewat kanal resmi BMKG. Dengan begitu, aktivitas sehari-hari bisa berjalan dengan lebih aman dan nyaman, meski cuaca sedang tak bersahabat.
Artikel Terkait
Bagian Tubuh Korban Mutilasi Bekasi Ditemukan di Bogor
Pelatih Bulgaria Apresiasi Perkembangan Timnas Indonesia Usai Kalah Tipis di Final FIFA Series
Bocah 9 Tahun Tewas Tertabrak Mobil di Halaman Rumah, Sopir Diduga Mengantuk
Herdman Soroti Potensi Doni Tri Pamungkas dan Beckham Putra Usai Kekalahan Timnas