Tapi, ia punya harapan lebih. Puskesos yang dihidupkan di tingkat desa itu, kata dia, bisa menjadi saluran utama untuk menampung usulan dan keluhan warga terkait layanan sosial. Bahkan, keluhan itu nantinya harus ditindaklanjuti melalui sebuah sistem.
"Ada sistemnya namanya SLRT. Sistem Layanan Rujukan Terpadu. Artinya, keluhan-keluhan itu harus ditindaklanjuti, tidak berhenti di situ saja," imbuh Gus Ipul.
Lebih jauh, ia menyoroti maksud besar di balik semua upaya ini. Melalui Inpres Nomor 4 Tahun 2025 tentang DTSEN, Presiden Prabowo Subianto ingin memastikan seluruh warga yang berhak mendapat perlindungan sosial benar-benar terjangkau program prioritas.
Gus Ipul lalu menunjuk ke arah panggung, mengingatkan semua yang hadir.
"Anak-anak Sekolah Rakyat yang tadi tampil, mereka berasal dari keluarga 'The Invisible People'. Keluarga yang sudah tak sanggup lagi menyekolahkan anaknya."
Pernyataan itu seolah mendapat sambutan dari Bupati Malang, Sanusi, yang mengaku terkagum-kagum dengan penampilan siswa SRT. Baginya, memberikan akses pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu adalah bentuk nyata berbagi manfaat.
"Kalau punya pengetahuan dan kemampuan, sedekahkanlah. Seperti yang dilakukan Sekolah Rakyat ini. Tadi luar biasa, anak-anak sudah bisa berpidato dua bahasa," kata Sanusi.
Acara yang digelar sejak pukul sembilan pagi itu dihadiri pula oleh Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib, Sekda beserta Forkopimda Kabupaten Malang, dan sejumlah pejabat eselon tinggi dari Kemensos. Kolaborasi, tampaknya, jadi kata kunci yang diharapkan tak sekadar wacana di pendopo.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Saksikan Penandatanganan Kerja Sama Indonesia-Jepang Senilai USD 23,63 Miliar
KPK Tetapkan Dua Tersangka Baru Kasus Korupsi Kuota Haji, Dugaan Suap Mencapai Miliaran Rupiah
Dua Warga Palestina Tewas Ditembak Pasukan Israel di Tepi Barat
Mendagri Tito Karnavian Serukan Peningkatan Kinerja ASN Usai Libur Idulfitri