Presiden Prabowo Subianto punya target jelas: kredit murah harus benar-benar sampai ke desa. Caranya? Lewat Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih. Dia mendorong agar koperasi-koperasi ini bisa menyalurkan pembiayaan dengan bunga yang jauh lebih rendah, yaitu sekitar 6 persen per tahun.
Menurutnya, ini langkah penting untuk memperbaiki ketimpangan yang selama ini terjadi. "Mikro kredit ya [suku bunga] 24%, orang miskin 24%," ujar Prabowo dalam sebuah pernyataan yang diunggah Minggu (22/3/2026).
Lalu dia membandingkan, "Maaf ya, pengusaha besar konglomerat berapa persen? paling tinggi 9% lah, 10% lah, katakanlah 12% lah."
"Itu rakyat 20%, saya bilang tidak bisa," tegasnya.
Nah, untuk itulah Koperasi Merah Putih digagas. Bunganya harus di bawah angka mikro kredit yang ada sekarang. "Kalau perlu 6% setahun. Bisa," jelas Prabowo.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono melihat ini sebagai terobosan. Saat ditemui di kantornya di Jakarta, Senin (30/3), Ferry bilang skema bunga rendah ini bisa jadi alternatif yang sehat bagi masyarakat.
"Itu adalah untuk menjadikan alternatif bagi masyarakat supaya masyarakat tidak terjebak kepada praktik rentenir, pinjaman online, dan lain sebagainya," kata Ferry.
Memang, selama ini banyak yang terjebak. Bunga dari rentenir atau pinjol online seringkali mencekik. Kehadiran pembiayaan bersahabat ini diharapkan bisa memutus ketergantungan itu.
Skemanya akan dijalankan lewat unit lembaga keuangan ultramikro yang ada di dalam struktur KopDes Merah Putih. Tapi peran koperasi ini nggak cuma sampai situ.
Di sisi lain, Ferry menegaskan KopDes Merah Putih juga punya misi lain. Misalnya, menyediakan barang kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, koperasi ini juga akan bertindak sebagai penyerap hasil produksi atau offtaker dari masyarakat desa. Jadi, lebih komprehensif.
Prabowo sendiri melihat ini sebagai langkah besar. Pengembangan koperasi desa dalam skala masif, dengan target 80.000 unit, disebutnya sebagai sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bahkan, dia yakin ini bisa jadi studi kasus bagi negara lain.
Latar belakangnya jelas: kebutuhan yang mendesak. Prabowo menggambarkan betapa sulitnya kehidupan petani. Masa tanam hingga panen bisa mencapai 120 hari. Di tengah periode panjang itu, sering muncul kebutuhan mendadak.
"Kadang-kadang istrinya sakit, jadi dia perlu pinjam uang. Dia pinjam uang dari siapa? Dari rentenir," tutur Prabowo.
Dan bunganya? Sangat mencekik. "Rentenir itu ngeri, dia tuh 1% sehari. can you imagine?" ujarnya.
Praktik semacam itulah yang dia anggap sebagai bentuk ketidakadilan. Bahkan, lebih dari itu. "Ini adalah penindasan manusia ke manusia. Masa orang miskin dikenakan [bunga] 1% sehari?"
Jawabannya, sekali lagi, adalah koperasi. Kehadiran KopDes Merah Putih diharapkan bukan sekadar program, tapi solusi nyata yang mengubah alur ekonomi di tingkat akar rumput.
Artikel Terkait
Imigrasi Tunggu Keputusan Polri Sebelum Tindak Selebgram Woodyrman yang Aniaya WNA Brunei hingga Tewas
Jepang dan Filipina Segera Negosiasikan Pakta Berbagi Intelijen Militer di Tengah Ketegangan Laut China
Polda Metro Jaya Buka Layanan Perpanjangan SIM Keliling di Lima Titik Jakarta, Jumat 29 Mei 2026
Jemaah Umrah Rugi Rp78 Juta, Laporkan Hanania Travel ke Polda Metro Jaya