KBBI Tegaskan Penulisan Baku Halalbihalal dan Kisah Asal-Usulnya

- Jumat, 27 Maret 2026 | 12:45 WIB
KBBI Tegaskan Penulisan Baku Halalbihalal dan Kisah Asal-Usulnya

Jakarta - Setiap Lebaran tiba, pertanyaan yang sama kerap muncul: bagaimana sih menulis istilah "halalbihalal" yang benar? Apakah dipisah atau disambung? Ternyata, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah punya jawaban pastinya. Sayangnya, masih banyak yang keliru, menuliskannya terpisah-pisah, padahal untuk keperluan formal seperti undangan atau surat resmi, aturan bakunya jelas.

Lalu, bagaimana penulisan yang tepat? Dan sebenarnya, dari mana sih tradisi khas Indonesia ini berawal?

Halalbihalal, Ditulis Serangkai

Kalau buka KBBI, kamu akan menemukan kata "halalbihalal" ditulis dalam satu rangkaian utuh. Tidak ada spasi. Pemenggalan katanya adalah ha.lal.bi.ha.lal. KBBI juga mencatat bentuk tidak bakunya, yaitu "bihalal". Secara makna, halalbihalal diartikan sebagai acara maaf-memaafkan usai puasa Ramadan, yang biasanya digelar ramai-ramai di suatu tempat, seperti aula kantor atau balai desa.

Intinya, ini adalah bentuk silaturahmi khas kita. Sebuah momen untuk menjalin kembali ikatan, baik dalam lingkup keluarga, tetangga, sampai rekan kerja, setelah sebulan penuh beribadah.

Memang, dalam percakapan sehari-hari atau undangan yang sifatnya santai, penulisan "halal bihalal" yang terpisah masih sangat umum ditemui. Tapi kalau sudah menyangkut dokumen resmi atau publikasi lembaga, lebih baik ikuti aturan baku: tulis serangkai. Jadi, "halalbihalal".

Cerita di Balik Tradisi Unik Ini

Nah, menariknya, tradisi ini punya sejarah yang erat dengan kondisi bangsa. Konon, istilah halalbihalal mulai populer di masa-masa awal kemerdekaan. Situasi politik saat itu memanas, penuh dengan gesekan dan perbedaan pendapat.

Menurut sejumlah catatan, termasuk dari NU Online, ide ini dicetuskan oleh KH Wahab Hasbullah sekitar tahun 1948. Kala itu, Presiden Soekanno sedang mencari cara untuk meredakan ketegangan antar-elite politik.

KH Wahab Hasbullah pun mengusulkan sebuah gagasan: mengadakan pertemuan silaturahmi yang ia sebut "halalbihalal". Tujuannya sederhana tapi dalam: agar para tokoh bisa duduk bersama, saling menyapa, dan tentu saja, saling memaafkan.

Usul itu diterima. Sejak saat itulah, acara halalbihalal rutin digelar dan akhirnya merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Dari tingkat negara, lalu ke instansi pemerintah, sekolah, perusahaan, hingga akhirnya menjadi tradisi wajib di setiap rumah warga Indonesia setiap Lebaran. Uniknya, tradisi seperti ini konon cuma ada di sini. Jadi, ini benar-benar warisan budaya kita sendiri.

(wia/imk)

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar