Asap kembali mengepul di langit Tel Aviv. Serangan udara Iran, Selasa (24/3/2026), menghantam ibu kota Israel itu, meninggalkan sejumlah bangunan rusak dan korban luka-luka. Serangan ini terjadi di tengah klaim Amerika Serikat yang menyatakan adanya dialog dengan Teheran untuk mengakhiri perang. Tampaknya, situasi di lapangan justru memanas.
Menurut laporan Channel 12 Israel, serangan rudal itu diikuti oleh hujan pecahan peluru. Rekaman video yang beredar menunjukkan kerusakan yang cukup parah di beberapa bagian kota. Suasana mencekam langsung terasa.
Zaki Heller, juru bicara layanan medis darurat Magen David Adom (MDA), memberikan konfirmasi awal.
"Kami mengidentifikasi empat lokasi terdampak di seluruh kota. Sementara ini, ada 6 orang dengan luka-luka ringan," ujarnya.
Operasi pencarian dan evakuasi, kata Heller, masih terus berlangsung di titik-titik serangan. Informasi lebih detail soal jenis rudal atau korban jiwa jika ada belum bisa dipastikan. Semuanya masih berkembang.
Serangan kali ini, seperti dilaporkan Anadolu Agency dan Al Jazeera, seolah menjawab klaim diplomatik AS. Dialog mungkin terjadi di meja perundingan, namun di udara, perang nyata ternyata belum berakhir. Warga Tel Aviv sekali lagi harus menghadapi realitas yang pahit.
Artikel Terkait
Israel Tegaskan Tidak Akan Tarik Pasukan dari Lebanon, Dapat Dukungan Penuh AS
Borderless Healthcare Group Buka Peluang Transformasi Rumah Sakit dan Resor di Indonesia Menjadi Pusat Layanan Kesehatan Longevity Berbasis AI
Fadli Zon Sebut Kebijakan Era Soeharto Layak Diadopsi demi Kemandirian Bangsa
Taufik Hidayat Resmi Jadi Tersangka Kasus Penyekapan dan Penganiayaan Berat terhadap Kekasih