Selat Hormuz masih tertutup. Ancaman dari Gedung Putih pun bergema: buka jalur itu, atau lihat jaringan listrikmu hancur. Ultimatum 48 jam dari Presiden AS Donald Trump kepada Iran itu seharusnya berakhir Senin malam waktu AS. Namun, di Moskow, nada yang terdengar justru berbeda.
Kremlin secara tegas menyerukan jalan damai. Lewat juru bicaranya, Dmitry Peskov, Rusia mendesak agar krisis ini diselesaikan lewat jalur politik dan diplomasi.
"Kami percaya bahwa situasi tersebut seharusnya beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik," kata Peskov kepada para wartawan.
Dia menambahkan, "Hanya cara itulah yang benar-benar bisa meredakan ketegangan yang sudah memuncak di kawasan ini."
Seruan Rusia ini bukan tanpa alasan. Negeri itu punya kepentingan langsung di Iran. Mereka adalah pihak yang membantu membangun dan mengoperasikan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr. Jadi, wajar jika Moskow was-was.
Apalagi, badan pengawas nuklir PBB sudah melaporkan bahwa lokasi pembangkit itu terkena proyektil pekan lalu. Rusia sebelumnya sudah memperingatkan, serangan apa pun yang membahayakan fasilitas nuklir adalah langkah yang sangat berisiko.
Perang ini sendiri dipicu oleh serangan bom AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Sejak saat itulah, Selat Hormuz jalur air vital bagi pasokan minyak global tertutup untuk lalu lintas kapal. Ketegangan pun terus memanas, dengan ancaman dan seruan damai yang saling bersahutan.
Artikel Terkait
Pertamina Patra Niaga Buka Akses Rekrutmen via Aplikasi MyPertamina
HBKB Diterapkan di HR Rasuna Said untuk HUT Jakarta, Dishub Sediakan 3.687 Slot Parkir dan Enam Jalur Alternatif
Pendiri Ponpes di Pati Jadi Tersangka Pemerkosaan Santriwati, Terancam 15 Tahun Penjara
PKB Kecam Pemerkosaan oleh Pimpinan Ponpes di Pati, Desak Polisi Tindak Tegas Pelaku