Kapolda Jabar: Arus Mudik Padat di Jalur Selatan, Rekayasa Lalu Lintas Diterapkan

- Senin, 23 Maret 2026 | 15:25 WIB
Kapolda Jabar: Arus Mudik Padat di Jalur Selatan, Rekayasa Lalu Lintas Diterapkan

Pantauan arus mudik di Jawa Barat menunjukkan kepadatan yang cukup signifikan. Kapolda Jabar, Irjen Rudi Setiawan, turun langsung memantau sejumlah titik. Menurutnya, kemacetan banyak terjadi di jalur-jalur arteri, terutama yang didominasi oleh pemudik lokal yang bersilaturahmi dalam satu wilayah.

"Untuk arteri, ini tidak bisa dihindarkan tadi ya," ujar Rudi saat ditemui di Simpang Gadog, Puncak, pada Senin (23/3/2026).

"Pergerakan masyarakat antar kabupaten-kota bersilaturahmi dengan uwaknya, dengan tetehnya, dengan akangnya di mana-mana. Ini pergerakannya cukup padat ya," jelasnya.

Di sisi lain, titik yang benar-benar jadi sorotan adalah jalur lintas selatan. Rudi menyoroti kondisi geografisnya yang jadi tantangan tersendiri. Jalan berkelok, ditambah turunan dan tanjakan yang curam, sudah jadi hambatan alamiah. Belum lagi banyaknya titik pasar di sepanjang kawasan itu yang memancing kendaraan berhenti.

"Arteri jalur selatan ini mendominasi. Kenapa? Kita lihat struktur jalannya kan itu berbelok-belok, turunan, tanjakan dan sebagainya," tutur Rudi.

"Banyak pasar, banyak tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya pemberhentian segala macam sehingga kepadatan ini akan terjadi."

Namun begitu, jajaran kepolisian sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Strateginya adalah dengan menempatkan personel di pos-pos yang telah disiapkan untuk mengurai kemacetan.

"Tetapi kami sudah mempunyai beberapa pos di sana. Untuk di Nagreg kami ada pos berkoordinasi dengan Limbangan, berkoordinasi dengan Gentong. Ini tiga ini satu talian ya untuk di jalur selatan," imbuhnya.

Rudi juga menyebut penerapan rekayasa lalu lintas. Hasilnya? Arus bisa dikendalikan.

"Ya alhamdulillah padat tapi lancar. Kita menerapkan beberapa rekayasa. Rekayasa tadi one way sepenggal dilihat dengan kapasitas kendaraan yang antreannya sudah sampai di mana," tambah dia.

Dukungan dari pemerintah provinsi pun turut meringankan. Di beberapa titik rawan macet, angkutan umum non-bus bahkan diberi kompensasi agar sementara waktu tidak beroperasi dan tak memperparah situasi.

"Di beberapa trouble spot itu yang ada angkot, becak, andong, seterusnya, bentor, itu dapat kompensasi," ujarnya.

Jadi, meski terlihat padat, upaya-upaya itu setidaknya menjaga agar arus mudik tetap bergerak, meski pelan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar