Nah, agar tak tercampur, DOE sudah memerintahkan perusahaan minyak untuk memisahkan produk Euro-II ini dari varian Euro-IV. Pemisahan harus dilakukan di setiap tahap, mulai dari penyimpanan, pengangkutan, hingga penjualan di tingkat ritel.
Sebenarnya, Manila sudah beralih dari Euro-II ke standar bahan bakar lebih bersih, yaitu Euro-IV, sejak delapan tahun lalu tepatnya 2016. Perbedaannya signifikan. Bahan bakar Euro-IV yang masih berlaku sekarang punya kandungan sulfur hanya 50 bagian per juta. Bandingkan dengan Euro-II yang mencapai 500 ppm jauh lebih tinggi.
Kebijakan darurat ini muncul di tengah situasi yang memanas. Baru minggu lalu, ribuan pengemudi jeepney membanjiri jalanan di berbagai kota. Mereka protes keras karena harga solar lokal melonjak lebih dari dua kali lipat. Lonjakan itu sendiri dipicu oleh meroketnya harga minyak global, imbas dari perang antara AS-Israel dan Iran.
Jadi, di satu sisi pemerintah berusaha menjamin ketersediaan, di sisi lain tekanan dari lapangan sudah sampai di titik didih. Kebijakan bahan bakar "jadul" ini ibarat obat penahan sakit, solusi sementara untuk meredakan gejolak yang kompleks.
Artikel Terkait
Iran Ancam Tutup Teluk Persia dengan Ranjau Laut Jika Diserang AS-Israel
Satpol PP Jaksel Kerahkan 160 Personel Amankan Destinasi Wisata Saat Libur Lebaran
Jasa Marga Terapkan Satu Arah di Tol Trans Jawa untuk Antisipasi Puncak Arus Balik
Anggota MPR Desak Percepat RUU Pengelolaan Iklim Menyikapi Suhu Terik di Jakarta