"Semua rumah di sini punya shelter bawah tanah. Mereka yang berhasil masuk ke dalam, sama sekali tidak terluka," tegas warga tersebut.
Di sisi lain, proses penilaian kerusakan pun segera dilakukan. Yehuda Morgenstern, Dirjen Kementerian Konstruksi dan Perumahan, mengatakan para insinyur telah dikerahkan ke lokasi.
Tugas mereka adalah menilai bangunan mana yang masih bisa diselamatkan, dan mana yang mungkin terpaksa dirubuhkan. "Peran kami adalah mengklasifikasikan struktur secepat mungkin, agar warga bisa kembali ke rumah mereka di mana pun itu memungkinkan," tekan Morgenstern.
Serangan ini terjadi di tengah ketegangan yang kian memanas di kawasan Timur Tengah. Pemicunya adalah operasi gabungan AS dan Israel terhadap target-target Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu sebuah operasi yang berlangsung paralel dengan pembicaraan diplomatik soal program nuklir Iran. Teheran pun membalas. Serangan balasan mereka terhadap Israel dan posisi militer AS memicu laporan ledakan di sejumlah negara Teluk.
Situasi bertambah rumit setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dipastikan tewas di hari pertama eskalasi. Mojtaba Khamenei, putranya, kemudian diangkat sebagai pengganti. Korban jiwa dari kedua pihak terus berjatuhan: lebih dari 1.400 warga Iran dan setidaknya 18 warga Israel telah dikonfirmasi meninggal.
Dampak konflik ini merambat jauh melampaui medan perang. Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% minyak dunia, ikut terganggu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan mengeluarkan peringatan keras: jalur itu mungkin akan dibatasi hanya untuk sekutu. Jika ancaman itu benar-benar terjadi, lonjakan harga minyak global hampir mustahil dihindari.
Artikel Terkait
Tayangan Spesial BTS Puncaki Tangga Lagu Netflix di 77 Negara
Tim Advokasi Desak Puspom TNI Rilis Foto Empat Prajurit Tersangka Penyiraman Aktivis
Harga BBM Nasional Tetap Stabil Meski Konflik Timur Tengak Picu Ketegangan Global
Misteri Batu Berjalan di Death Valley Terpecahkan Berkat Es dan Angin