Ambil contoh tradisi sungkem dan salim. Di satu sisi, ia adalah perwujudan dari ajaran Islam tentang birrul walidain, bakti kepada orang tua. Di sisi lain, ia menyatu sempurna dengan budaya Nusantara yang sangat menekankan hierarki moral dan penghormatan.
Yang menarik, penghormatan kepada orang tua dalam konteks Arab bersifat lebih normatif. Sementara di sini, ia menjelma menjadi ritus simbolik yang konkret dan sarat emosi. Ini membuktikan satu hal: Indonesia tidak cuma "menganut" Islam. Kita mengolahnya, meresapkannya, hingga melahirkan sebuah peradaban dengan rasa yang mendalam.
Mekanisme Rekonsiliasi Nasional
Pada akhirnya, Idulfitri di Indonesia berkembang menjadi ritual rekonsiliasi nasional tahunan. Ia jadi forum penyatuan yang cair antara elite politik dan masyarakat biasa. Mekanisme informal ini ternyata ampuh untuk meredakan ketegangan dan menyelesaikan konflik.
Tradisi Open House di Istana Negara, misalnya, memperkuat fungsi ini. Rakyat bisa bertemu pemimpinnya tanpa sekat birokrasi yang kaku. Rasa kebangsaan pun menguat dengan sendirinya. Dari kacamata tertentu, ini adalah instrumen stabilisasi sosial yang canggih. Basisnya budaya, bukan kekuasaan.
Beda dengan Tradisi Lain
Memang, setiap bangsa punya tradisi tahunannya masing-masing. Nowruz di Iran merayakan pembaharuan alam. Chinese New Year fokus pada kemakmuran dan leluhur. Tết di Vietnam menguatkan keharmonisan keluarga. Lalu, apa keunikan Idulfitri kita?
Jawabannya terletak pada rekonsiliasi moral yang terstruktur. Ritual nasional inilah yang menjadi kontribusi luar biasa Indonesia bagi dunia Islam. Idulfitri telah menghidupkan keyakinan agama menjadi sebuah sistem sosial yang dinamis dan aplikatif dalam masyarakat kita.
Penutup
Jadi, Idulfitri yang berawal dari ajaran universal itu, di Indonesia menemukan bentuknya yang paling matang. Ia terhayati sebagai tradisi sosial penuh empati dan rekonsiliasi yang mengharukan.
Peran negara lewat pendekatan kultural berhasil mentransformasi ritual menjadi institusi sosial. Maaf pun berubah menjadi kekuatan nasional yang nyata. Dalam hal ini, kita boleh berbangga. Indonesia telah menjadi semacam pusat peradaban yang mematrikan keluhuran ajaran dunia ke dalam praktik nyata.
AM Hendropriyono. Pendiri Kraton Budaya Majapahit Jakarta.
Artikel Terkait
Ramai Pengunjung Pilih Ancol sebagai Alternatif Hindari Macet Puncak
Warga Ciracas Bersihkan Rumah Terendam Banjir di Hari Kedua Lebaran
Hindari Macet Puncak, Warga Ibu Kota Ramai-ramai Pilih Ancol di Hari Kedua Lebaran
Bekal Sisa Lebaran Warnai Piknik Keluarga di Ancol