Gejolak harga minyak dunia belum juga reda. Pemicunya, konflik antara AS-Israel dan Iran yang terus memanas. Dampaknya merembet ke mana-mana, termasuk ke Asia. Beberapa negara sudah mulai mengambil langkah penghematan, salah satunya dengan menggalakkan kerja dari rumah atau WFH. Kini, Indonesia pun bersiap mengikuti jejak mereka.
Presiden Prabowo Subianto memang menekankan pentingnya penghematan BBM di tengah situasi Timur Tengah yang memanas. Responsnya, pemerintah berencana menerapkan kebijakan WFH satu hari dalam seminggu.
Usai rapat dengan Presiden di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis lalu, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan penjelasan.
"Kajian menunjukkan, dengan harga minyak yang tinggi ini, efisiensi waktu kerja jadi perlu. Nantinya akan ada fleksibilitas untuk work from home. Rencananya, satu hari dalam lima hari kerja," kata Airlangga.
Namun begitu, kebijakan ini belum akan langsung diterapkan. Airlangga menyebut pelaksanaannya baru akan dimulai pasca Lebaran. Rincian waktu pastinya masih digodok.
"Pasca lebaran, tapi nanti kita akan tentukan kapan waktunya," ujarnya singkat.
Teknis rencana WFH sendiri masih dalam tahap penyusunan. Menariknya, imbauan ini tidak hanya ditujukan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN). Airlangga berharap sektor swasta juga turut serta menerapkan kebijakan serupa, untuk memperluas dampak penghematannya.
Sebelum Indonesia, sejumlah negara tetangga di Asia sudah lebih dulu mengambil langkah serupa. Pakistan, misalnya.
Pakistan Ambil Langkah Drastis
Dilansir AFP, Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengumumkan serangkaian langkah darurat untuk menghemat bahan bakar. Pemerintahannya meminta separuh dari pekerjanya untuk beralih ke WFH, sekaligus memperpanjang masa libur sekolah.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Harga minyak sempat menembus angka $100 per barel level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina di 2022. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan serangan balasan Iran ke kawasan Teluk yang kaya minyak.
Situasinya cukup pelik bagi Pakistan yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas dari Teluk. Mereka bahkan terpaksa menaikkan harga BBM di SPBU sekitar 20 persen, yang langsung memicu antrean panjang di mana-mana.
PM Sharif sendiri mengaku ini adalah keputusan yang sulit. Dia ingin menghindari kenaikan harga lebih lanjut yang bisa semakin menyulitkan warganya, yang sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan. Langkah penghematan seperti WFH dianggap sebagai pilihan yang harus diambil.
Artikel Terkait
Kenaikan Yesus Kristus 2026 Jatuh pada 14 Mei, Pemerintah Tetapkan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama
Kapal Pesiar Belanda Terisolasi di Tanjung Verde Akibat Wabah Hantavirus, Tiga Tewas
WN Inggris Pelaku Penusukan Pegawai Hotel di Buleleng Ditangkap saat Hendak Kabur ke Jawa
Menteri Kehutanan Sebut Koordinasi dan Peran Masyarakat Kunci Turunkan Karhutla di Tengah El Nino