Setiap Idulfitri, ucapan "minal aidin wal faizin" seolah sudah menjadi soundtrack wajib. Bergema di mana-mana, dari pesan singkat hingga salam saat bersilaturahmi. Tapi pernahkah kita benar-benar merenung, apa sih arti sebenarnya di balik frasa yang begitu akrab itu?
Secara harfiah, ungkapan ini punya makna yang dalam. Kata "aidin" itu berakar pada makna "kembali". Sementara "faizin" berarti "orang-orang yang meraih kemenangan". Kalau dirangkai, jadi sebuah doa yang powerful: semoga kita termasuk golongan yang kembali kepada kesucian fitrah, sekaligus jadi pemenang.
Menurut penjelasan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), kemenangan di sini bukan cuma soal berhasil menuntaskan puasa sebulan penuh. Lebih dari itu. Ini tentang kemenangan batin mengalahkan hawa nafsu, mengendalikan diri, dan berhasil membawa pulang "modal" kebaikan Ramadan untuk diinvestasikan di sebelas bulan berikutnya.
Jadi, jelas ini bukan sekadar basa-basi. Ucapan itu adalah doa yang sarat harapan, agar transformasi spiritual yang kita usahakan di bulan suci betul-betul membekas. Agar kita tak kembali seperti sebelumnya, melainkan menjadi versi diri yang lebih baik.
Lalu, Dari Mana Asalnya?
Nah, soal asal-usulnya, ada cerita menarik. Ternyata, ungkapan ikonik ini bukan berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW. Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, mengungkapkan asal-muasalnya.
"Secara kultural tiap kali Idul Fitri kita mengucapkan 'minal aidin wal faizin', ini ungkapan yang berasal dari penyair Andalusia, penyair Spanyol, yang merayakan kegembiraan bersama dengan para perempuan Andalusia pada waktu itu," terang Mu'ti.
Penyair itu adalah Shafiyuddin al-Hilli. Dari syair dan kegembiraan perayaan di Andalusia, ucapan itu kemudian menyebar, diadopsi, dan akhirnya mengakar kuat dalam tradisi umat Islam di berbagai penjuru, termasuk Indonesia.
Meski bukan bagian dari teks ajaran formal, esensinya sejalan dengan semangat Idulfitri. Tidak bertentangan. Justru ia menjadi bukti kekayaan budaya Islam yang menyerap dan merayakan kebaikan dari berbagai peradaban.
Pada akhirnya, "minal aidin wal faizin" lebih dari sekadar kata. Ia adalah cermin harapan kolektif. Sebuah ikhtiar untuk kembali suci, dan merayakan kemenangan sekecil apa pun atas diri sendiri. Selamat Hari Raya.
Artikel Terkait
Pegawai Toko Roti Hari Pertama Kerja Tewas Dibacok di Cengkareng, Pelaku Ditangkap Kurang dari 24 Jam
KSP Dudung Kecam Pernyataan Habib Rizieq: Ulama Harusnya Menyejukkan, Bukan Memprovokasi
Penyakit Kulit Mewabah di Kamp Pengungsian Gaza, PBB Peringatkan Krisis Kesehatan Baru
Penyakit Kulit Ancam Warga Gaza, PBB Peringatkan Krisis Kesehatan Baru di Kamp Pengungsian