Lebaran, 8.872 Warga Binaan di Jateng Dapat Remisi, 57 Langsung Bebas

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:15 WIB
Lebaran, 8.872 Warga Binaan di Jateng Dapat Remisi, 57 Langsung Bebas

Lebaran tahun ini membawa kabar baik bagi ribuan penghuni lapas di Jawa Tengah. Tak kurang dari 8.872 warga binaan mendapatkan remisi atau pengurangan masa hukuman. Ini adalah bentuk penghargaan negara menyambut Idulfitri 1447 Hijriah.

Dari ribuan orang itu, 61 di antaranya adalah anak binaan. Dan yang paling menggembirakan, ada 57 narapidana yang langsung bebas karena remisi yang mereka terima.

Kepala Ditjen Pemasyarakatan Wilayah Jawa Tengah, Mardi Santoso, mengonfirmasi hal ini.

"Sebanyak 57 napi langsung bebas setelah memperoleh remisi,"

Menurut data yang dirilis, mayoritas penerima remisi justru berasal dari kasus narkotika. Jumlahnya mencapai 3.157 orang. Sementara itu, narapidana kasus korupsi yang dapat remisi ada 245 orang.

Di sisi lain, ada juga penerima dari kasus-kasus lain yang tak kalah serius. Sebut saja terorisme, pembalakan liar, sampai pencucian uang. Semuanya mendapat kesempatan yang sama asal memenuhi syarat.

Perlu diingat, total penghuni lapas dan rutan di Jateng sendiri sebenarnya jauh lebih besar: sekitar 16.298 orang. Jadi, remisi ini memang tidak diberikan secara serampangan. Ini murni penghargaan bagi mereka yang menunjukkan perubahan sikap selama di dalam.

Mardi Santoso menegaskan, ada sejumlah kriteria ketat yang harus dipenuhi. Paling tidak, mereka sudah menjalani hukuman minimal enam bulan. Perilaku mereka harus baik, tidak ada catatan pelanggaran disiplin. Dan yang penting, putusan hukumnya sudah berkekuatan tetap.

"Remisi ini diharapkan menjadi motivasi agar warga binaan terus berperilaku baik dan aktif dalam program pembinaan,"

Harapannya jelas. Kebijakan ini bukan sekadar mengurangi jumlah penghuni lapas yang overcapacity. Lebih dari itu, ini adalah bentuk pengakuan bahwa usaha untuk berubah itu ada nilainya. Dan di momen maaf-memaafkan seperti Lebaran, semangat memberi kesempatan kedua itu terasa lebih relevan daripada sekadar angka-angka statistik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar