Faktornya jelas. Jumlah pengguna dan pedagang yang menerima QRIS makin meluas, dari warung kaki lima sampai mal-mal besar. Praktis, cepat, dan menyatukan banyak dompet digital dalam satu kode.
Di sisi lain, infrastruktur pendukung juga menunjukkan perkembangan solid. Transaksi ritel yang mengalir lewat sistem BI-FAST, misalnya, volumenya mencapai 434 juta dengan pertumbuhan 31,49 persen. Nilainya tembus Rp1.092 triliun.
Namun begitu, ada sedikit perlambatan di segmen transaksi bernilai besar. Volume transaksi lewat BI-RTGS turun 5,33 persen, meski nilai nominalnya justru naik 9,19 persen menjadi Rp16.105 triliun. Ini mengindikasikan transaksi yang dilakukan mungkin lebih sedikit, tetapi nilai per transaksinya lebih besar.
Perry juga menyentuh soal uang fisik.
Artinya, meski digitalisasi merajalela, permintaan akan uang tunai tetap ada dan bahkan bertambah. Mungkin untuk keperluan tertentu atau sekadar cadangan. Trennya jelas: dunia digital berkembang pesat, tapi uang kertas belum akan punah dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Puspom TNI Selidiki Ada atau Tidaknya Perintah di Balik Penyerangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS
Jadwal Buka Puasa di Jakarta dan Kepulauan Seribu Rabu 18 Maret 2026 Pukul 18.08
TNI Umumkan Empat Tersangka Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, Tiga Berpangkat Perwira
Flick Waspadai Kecepatan Newcastle di Laga Penentu Barcelona