Bhabinkamtibmas Kuansing Dirikan Sekolah dan Pesantren, Diusulkan Raih Hoegeng Awards

- Selasa, 17 Maret 2026 | 10:25 WIB
Bhabinkamtibmas Kuansing Dirikan Sekolah dan Pesantren, Diusulkan Raih Hoegeng Awards

Niatnya sederhana saja. Aipda Mariono, seorang Bhabinkamtibmas di Desa Sungai Langsat, Kuantan Singingi, Riau, hanya ingin anak-anak di daerah transmigran itu bisa sekolah dengan layak. Tapi dari niat sederhana itu, lahir sesuatu yang luar biasa: sebuah kelas jauh sekolah dasar, bahkan kemudian sebuah pondok pesantren tahfiz.

Pengabdiannya yang tulus itu tak luput dari perhatian warga. Juprison, seorang warga Kuansing berusia 42 tahun, sampai mengusulkan nama Mariono untuk Hoegeng Awards 2026. Alasannya kuat.

"Beliau mendirikan kelas jauh sekolah dasar pada tahun 2010 dan mendapatkan sertifikat satu Indonesia Award bidang pendidikan tingkat provinsi," ujar Juprison.

Menurutnya, inovasi Mariono tak berhenti di situ. "Pada tahun 2021 beliau berinovasi dengan mendirikan pondok pesantren tahfiz Qu'ran dan berjalan sampai dengan saat ini dengan santri berjumlah 65 di kelas TPQ. Mendukung program Green Policing dengan mendapatkan apresiasi dari Bapak Kapolda Riau."

Ceritanya berawal dari keprihatinan. Juprison menjelaskan, Mariono menginisiasi pembangunan kelas jauh SD di Sawah Godang, Desa Logas, karena akses yang sangat sulit. "Anak-anak di situ kan memang jauh di kampung, akses di lokasi perkebunan (sawit) sehingga tidak mudah untuk menjangkau sekolah dasar utamanya," katanya suatu hari di awal Maret 2026.

Solusinya? "Makanya Pak Mariono itu dia mendirikan kelas jauh sekolah yang ada di perkebunan itu."

Kelas yang menginduk ke SD Negeri 2 Logas itu kini sudah lengkap, dari kelas 1 hingga 6. Padahal awalnya cuma dua lokal dengan belasan siswa. Tapi perhatian Mariono ternyata lebih dari sekadar pendidikan formal.

Dia juga mendirikan pondok pesantren tahfiz di desa tempatnya bertugas. "Dia membaur dengan masyarakat, bahkan dari nol dia turut, ikut mendirikan dan men-support," kenang Juprison. "Ada sekitar belasan santri terus berkembang."

Tak cuma itu. Di bidang olahraga, pria ini aktif membina klub voli dan sepakbola, bahkan ikut melestarikan tradisi pacu jalur khas Kuansing. Lapangan voli pun dia bangun. Intinya, dia polisi yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.

"Dia itu menyamaratakan pergaulan dengan masyarakat, tidak membeda-bedakan," tambah Juprison yang mengenal Mariono sejak 2009. "Pandai dia membawa diri, kalau dia bersama petani dia jadi petani. Dia tidak segan-segan bajunya kotor dengan petani."

Soal lingkungan, dia juga tak main-main. Sejak 2021, dia membangun bank pohon di Desa Sungai Langsat yang kemudian menghantarkannya dapat penghargaan dari Kapolda Riau. "Dia aktif untuk itu, bahkan dia mendapat hadiah umrah juga kemarin kan," jelas Juprison.

Dari Lahan Pribadi Jadi Sekolah

Awal mula kelas jauh SD ini justru lahir dari keprihatinan pribadi Mariono saat masih bertugas di Sat Intelkam Polsek Logas Tanah Darat, sekitar tahun 2010. Saat itu, dia melihat anak-anak di Dusun Sawah Godang terancam putus sekolah.

"Waktu itu kebetulan pembukaan lahan baru. Kita menengok anak-anak itu kan putus sekolah karena orang tuanya berkebun, bekerja, mau ikut bapak ibunya mau sekolah jauh sekali, nggak terjangkau," cerita Mariono. "Dia umurnya usia sekolah."

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar