Niatnya sederhana saja. Aipda Mariono, seorang Bhabinkamtibmas di Desa Sungai Langsat, Kuantan Singingi, Riau, hanya ingin anak-anak di daerah transmigran itu bisa sekolah dengan layak. Tapi dari niat sederhana itu, lahir sesuatu yang luar biasa: sebuah kelas jauh sekolah dasar, bahkan kemudian sebuah pondok pesantren tahfiz.
Pengabdiannya yang tulus itu tak luput dari perhatian warga. Juprison, seorang warga Kuansing berusia 42 tahun, sampai mengusulkan nama Mariono untuk Hoegeng Awards 2026. Alasannya kuat.
"Beliau mendirikan kelas jauh sekolah dasar pada tahun 2010 dan mendapatkan sertifikat satu Indonesia Award bidang pendidikan tingkat provinsi," ujar Juprison.
Menurutnya, inovasi Mariono tak berhenti di situ. "Pada tahun 2021 beliau berinovasi dengan mendirikan pondok pesantren tahfiz Qu'ran dan berjalan sampai dengan saat ini dengan santri berjumlah 65 di kelas TPQ. Mendukung program Green Policing dengan mendapatkan apresiasi dari Bapak Kapolda Riau."
Ceritanya berawal dari keprihatinan. Juprison menjelaskan, Mariono menginisiasi pembangunan kelas jauh SD di Sawah Godang, Desa Logas, karena akses yang sangat sulit. "Anak-anak di situ kan memang jauh di kampung, akses di lokasi perkebunan (sawit) sehingga tidak mudah untuk menjangkau sekolah dasar utamanya," katanya suatu hari di awal Maret 2026.
Solusinya? "Makanya Pak Mariono itu dia mendirikan kelas jauh sekolah yang ada di perkebunan itu."
Kelas yang menginduk ke SD Negeri 2 Logas itu kini sudah lengkap, dari kelas 1 hingga 6. Padahal awalnya cuma dua lokal dengan belasan siswa. Tapi perhatian Mariono ternyata lebih dari sekadar pendidikan formal.
Dia juga mendirikan pondok pesantren tahfiz di desa tempatnya bertugas. "Dia membaur dengan masyarakat, bahkan dari nol dia turut, ikut mendirikan dan men-support," kenang Juprison. "Ada sekitar belasan santri terus berkembang."
Tak cuma itu. Di bidang olahraga, pria ini aktif membina klub voli dan sepakbola, bahkan ikut melestarikan tradisi pacu jalur khas Kuansing. Lapangan voli pun dia bangun. Intinya, dia polisi yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
"Dia itu menyamaratakan pergaulan dengan masyarakat, tidak membeda-bedakan," tambah Juprison yang mengenal Mariono sejak 2009. "Pandai dia membawa diri, kalau dia bersama petani dia jadi petani. Dia tidak segan-segan bajunya kotor dengan petani."
Soal lingkungan, dia juga tak main-main. Sejak 2021, dia membangun bank pohon di Desa Sungai Langsat yang kemudian menghantarkannya dapat penghargaan dari Kapolda Riau. "Dia aktif untuk itu, bahkan dia mendapat hadiah umrah juga kemarin kan," jelas Juprison.
Dari Lahan Pribadi Jadi Sekolah
Awal mula kelas jauh SD ini justru lahir dari keprihatinan pribadi Mariono saat masih bertugas di Sat Intelkam Polsek Logas Tanah Darat, sekitar tahun 2010. Saat itu, dia melihat anak-anak di Dusun Sawah Godang terancam putus sekolah.
"Waktu itu kebetulan pembukaan lahan baru. Kita menengok anak-anak itu kan putus sekolah karena orang tuanya berkebun, bekerja, mau ikut bapak ibunya mau sekolah jauh sekali, nggak terjangkau," cerita Mariono. "Dia umurnya usia sekolah."
Dia pun bergerak. Setelah berembuk dengan warga, dibangunlah kelas sederhana di atas lahan pribadi dan lahan teman yang dihibahkan. "Kita buatkan dari papan kita bangunkan 3 lokal. Dua untuk lokal anak belajar, 1 lokal itu gurunya."
Sekarang bangunannya sudah permanen, dikelola mandiri oleh warga dengan dana BOS. Tapi dulu, meyakinkan orang tua murid bukan hal mudah. "Mirip-mirip film Laskar Pelangi saya pada saat itu," akunya. "Saya yakinkan seperti itu."
Dana awalnya? Dari kantongnya sendiri. Sekitar Rp 15 juta untuk kayu dan material, ditambah gotong royong warga. Lokasinya pun terpencil, jalannya tanah, sulit dilalui saat hujan. Tapi jerih payahnya terbayar. Pada 2017, dia dapat SATU Indonesia Award tingkat provinsi untuk bidang pendidikan.
Pesantren, Voli, dan Bank Pohon
Pindah tugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Sungai Langsat pada 2015 justru memperluas karya Mariono. Di atas lahan 1,1 hektare, dia membangun sebuah kompleks kecil untuk masyarakat.
"Jadi paling depan untuk usaha pribadi, usaha sembako. Lalu ada sebagian sekitar 10 sampai 15 rumah warga, saya hibahkan sama masyarakat," jelasnya. "Ada pondok pesantren itu, ada fasilitas olahraga saya bikin, bola voli."
Pondok pesantren tahfiznya sudah punya izin dari Kemenkumham sejak 2021. Saat ini baru berfungsi sebagai TPQ dengan 65 santri. "Belajar setelah salat asar... yang penting dia menyenangi dengan Al-Qur'an," ujarnya. Untuk operasional, dia memberi insentif ke guru utama dan pendamping, sementara wali santri menyepakati iuran sukarela Rp 1 ribu per hari.
Motivasinya datang dari pengalaman masa kecilnya sendiri di daerah transmigrasi. "Jadi memori waktu kecil itu mempengaruhi kita... saya kepengin anak-anak itu jangan sampai kayak kita."
Selain ilmu agama, dia juga ingin anak-anak sehat dan terhindar dari kenakalan remaja. Maka didirikanlah akademi voli. Sekitar 30 anak latihan gratis dengan pelatih berlisensi. Lapangannya ada di dekat pesantren, lengkap dengan lampu untuk malam hari. Timnya kerap ikut kejuaraan dan beberapa kali bawa pulang piala.
Semua pembangunan ini tentu butuh biaya tak sedikit. Mariono mengakui sudah keluar mungkin sekitar Rp 100 juta, dibiayai dari hasil kebun dan usaha sembakonya. "Ada rezeki, ada kebun sedikit... kalau kita nggak ada perkebunan nanti operasionalnya terganggu."
Di sela-sela itu, program bank pohonnya terus berjalan. Lahan di sekitar pesantren ditanami buah-buahan dan pohon kehutanan. "Kita tujuan dari 2021 itu saya sampaikan dilarang tanaman di luar tanaman pohon," tegasnya.
Komitmen pada penghijauan inilah yang membawanya mendapat apresiasi langsung dari Kapolda Riau. "Alhamdulillah tahun 2025 kemarin itu... kita dapat hadiah umrah dari Pak Kapolda."
Sebuah penghargaan yang pantas, untuk seorang polisi yang memilih mengabdi dengan cara yang berbeda: bukan dengan pentungan atau peluru, melainkan dengan papan tulis, Al-Qur'an, bibit pohon, dan bola voli.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi