Mantan Pimpinan MPR/DPR Bahas Stabilitas dan Anggaran dalam Forum Kebangsaan

- Senin, 16 Maret 2026 | 23:25 WIB
Mantan Pimpinan MPR/DPR Bahas Stabilitas dan Anggaran dalam Forum Kebangsaan

Di sisi lain, forum ini juga menyentuh soal yang sering dianggap sepele: komunikasi. Di tengah situasi yang kompleks, masyarakat butuh penjelasan yang lugas dan konsisten dari pemerintah. Tanpa itu, kebijakan yang bagus sekalipun bisa disalahpahami dan malah menimbulkan kecemasan.

"Kondisi negara sedang menghadapi banyak tantangan. Karena itu masyarakat perlu ditenangkan dengan komunikasi yang baik. Pemerintah memerlukan figur yang mampu menjembatani kebijakan negara dengan pemahaman publik," kata Marzuki Alie, mantan Ketua DPR.

Gagasan untuk memperkuat peran juru bicara presiden pun mengemuka. Di era banjir informasi dan spekulasi digital, kehadiran sumber resmi yang kredibel dan mampu menjelaskan dengan cepat dinilai sangat krusial. Tanpa koordinasi yang rapi, pernyataan pejabat yang saling berbeda justru bisa memicu kebingungan publik.

Anggota DPR 2009-2024, Melani Leimena Suharli, menekankan hal itu.

"Pemerintah perlu memiliki juru bicara yang kuat, kredibel, dan mampu menjelaskan kebijakan secara jelas kepada publik. Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai spekulasi yang berkembang, kehadiran juru bicara pemerintah sangat penting untuk memberikan penjelasan yang terukur, utuh dan tidak menimbulkan spekulasi di ruang publik," tegasnya.

Diskusi kemudian mengerucut pada dampak nyata geopolitik terhadap perekonomian. Ketegangan di Timur Tengah atau Eropa Timur, misalnya, langsung berimbas pada rantai pasok energi dan arus investasi. Negara seperti Indonesia dituntut lebih lincah merumuskan strategi agar stabilitas fiskal dan ketahanan energi tetap terjaga.

"Geopolitik global menjadi premis penting yang menentukan jalannya pemerintahan saat ini. Konflik di berbagai kawasan dapat memengaruhi investasi, perdagangan, dan pendapatan negara. Karena itu Indonesia perlu menyesuaikan strategi ekonominya agar mampu bertahan dalam situasi global yang tidak menentu," papar Anis Matta, Anggota DPR 2004-2009.

Di akhir pembicaraan, koordinasi antar lembaga negara ditegaskan sebagai kunci stabilitas. Sistem check and balances pasca reformasi dianggap sebagai kekuatan yang mencegah kekuasaan terpusat pada satu tangan saja.

Anggota DPR Ahmad Basarah menambahkan, "Jumlah pimpinan MPR dan DPR lintas periode yang masih ada saat ini mencapai lebih dari empat puluh orang. Pengalaman mereka merupakan aset penting bagi bangsa. Forum ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan saran dan masukan kepada Presiden demi kepentingan negara."

Menanggapi semua masukan itu, Menko Polkam Djamari Chaniago menyambut baik dialog semacam ini. Menurutnya, pemerintah butuh perspektif luas dari berbagai kalangan, termasuk mereka yang pernah memegang tampuk kepemimpinan di parlemen.

"Forum seperti ini sangat penting bagi pemerintah untuk mendapatkan informasi dan pandangan yang berkembang di masyarakat. Berbagai gagasan dan kritik yang disampaikan para tokoh bangsa akan menjadi bahan berharga bagi pemerintah dalam merumuskan langkah kebijakan ke depan," tutupnya.

Pertemuan itu sendiri dihadiri banyak wajah familiar. Selain yang telah disebutkan, hadir pula antara lain Sufmi Dasco, Fahri Hamzah, Sidarto Danusubroto, Lukman Hakim Saifuddin, Ahmad Farhan Hamid, Agus Hermanto, Priyo Budi Santoso, Hajriyanto Y. Thohari, dan Achmad Dimyati Natakusumah. Dari pihak pemerintah, hadir Deputi I Menko Polkam Mayjen TNI (Purn) Heri Wiranto serta Anggota DPR RI Robert Kardinal.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar