Di sisi lain, situasinya jadi cukup pelik. Polisi harus mengerahkan sekitar seribu personelnya. Tugas mereka jelas: memisahkan dua kubu yang berseberangan. Di satu sisi ada massa pro-Palestina, sementara di sisi lain ada kelompok tandingan yang membawa bendera Israel serta spanduk anti-Hamas.
Upaya mencegah bentrokan pun dilakukan ekstra ketat. Bahkan, Lambeth Bridge sempat ditutup sementara untuk memisahkan kedua kelompok tersebut.
Meski sudah dijaga ketat, kericuhan kecil tetap terjadi. Polisi melaporkan setidaknya 12 orang ditangkap dengan berbagai tuduhan. Mulai dari dukungan pada organisasi terlarang, perilaku mengancam, sampai sekadar mengganggu ketertiban umum.
Di tengah kerumunan, tampak pula bendera-bendera Iran berkibar, diselingi poster bertuliskan “Choose the right side of history”. Polisi menilai penyelenggara aksi punya hubungan dengan kelompok pendukung pemerintah Iran. Meski begitu, panitia bersikukuh bahwa acara ini murni bentuk solidaritas untuk rakyat Palestina.
Seperti diketahui, Al-Quds Day adalah aksi tahunan di akhir Ramadan yang digelar di berbagai negara. Tradisi ini pertama kali digaungkan setelah Revolusi Iran 1979.
Kini, bola ada di pengadilan. Kita lihat saja bagaimana penyelidikan polisi London berjalan, dan apakah seruan “kematian untuk IDF” kali ini akan berujung proses hukum atau kembali tenggelam tanpa kepastian.
Artikel Terkait
FORMAS Buka Kantor di Beijing untuk Perkuat Jembatan Investasi Indonesia-China
Kapolsek Cileungsi Sikat Otak Perampok Lansia dengan Menyamar Jadi Petugas PLN
Muhammadiyah Imbau Takbir Keliling Ditiadakan di Bali Demi Hormati Nyepi
Gempa Magnitudo 3,3 Guncang Blitar Tengah Malam