Semua ini terjadi di tengah ketegangan yang sudah memuncak. Konflik terbuka antara Iran dengan AS dan Israel memang baru meletus akhir Februari lalu. Pemicunya tragis: tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bersama sejumlah komandan dan warga sipil. Sejak itu, Iran melancarkan gelombang serangan rudal dan drone ke berbagai posisi militer Amerika dan Israel di Timur Tengah.
Namun begitu, narasi dari pihak UEA berbeda. Kementerian Pertahanan mereka mengklaim sistem pertahanan udaranya bekerja dengan efektif. Katanya, lebih dari 90 persen serangan rudal dan drone Iran berhasil dicegat. Angkanya cukup detail: hingga hari ke-13 perang, 268 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 1.514 drone dilaporkan hancur sebelum mencapai sasaran.
Meski klaim keberhasilan itu terdengar meyakinkan, warga di lapangan merasakan hal lain. Di kota-kota seperti Dubai dan Abu Dhabi, kehidupan sehari-hari terusik. Bunyi ledakan intersepsi di udara sudah jadi pemandangan biasa. Peringatan serangan di ponsel pun muncul hampir setiap hari, mengingatkan bahwa perang ini nyata dan dampaknya tetap merambat, terlepas dari berapa banyak proyektil yang berhasil ditembak jatuh.
Artikel Terkait
Polri Terapkan Sistem Satu Arah Nasional untuk Puncak Arus Mudik 18 Maret
Menko Airlangga: Pariwisata Berpotensi Rugi Rp184,8 Miliar per Hari Akibat Konflik Global
Pelabuhan Sungai Selan Padat, Pengelola Tambah Armada untuk Antisipasi Lonjakan Pemudik
Roy Suryo Kaitkan Perubahan Sikap Rismon Soal Ijazah Jokowi dengan Supersemar