Semua berubah pada malam depot minyak itu dibombardir. "Apartemen kami bergetar hebat. Semua jendela tiba-tiba terang benderang, seperti sudah pagi."
Keesokan harinya, Mina berangkat. Mobil yang ditumpanginya penuh bercak hitam hujan yang tercemar. "Sahabat saya memilih tetap di Teheran. Saya telepon dia tiap hari sekarang. Kami ngobrol tentang hal-harap seru yang akan kami lakukan kalau perang selesai. Mungkin kami akan warnai rambut jadi lebih terang," ujarnya.
Di tengah semua ini, berkomunikasi adalah tantangan besar. Pemerintah memberlakukan pemadaman internet sejak perang berkecamuk. Tapi di balik kesulitan, selalu ada celah.
Beberapa warga yang melek teknologi memanfaatkan Starlink. Sistem internet satelit itu jadi jalur hidup, menghubungkan mereka dengan dunia luar. Cara kerjanya sederhana: jaringan satelit di angkasa berkomunikasi dengan piringan kecil di darat. Tapi risikonya besar. Memakai Starlink di Iran bisa berujung dua tahun penjara. Aparat dikabarkan aktif memburu perangkat-perangkat ini.
Mehran, pemuda Teheran, nekad. Dia membagi koneksi Starlink miliknya ke setidaknya 25 orang. Perangkatnya disembunyikan di "lokasi terpencil" agar aman dari sitaan atau gangguan sinyal.
"Saya kasih akses gratis ke orang-orang terdekat," katanya. Meski begitu, di pasar gelap Telegram, akses 1GB data Starlink dijual sekitar 90 ribu rupiah. Harga yang sangat mahal, mengingat gaji rata-rata bulanan warga Iran berkisar antara 3 hingga 4,5 juta rupiah.
Shima, warga Teheran lainnya, adalah salah satu pengguna yang harus membayar mahal untuk koneksi itu.
"Kamu harus beli dari orang yang benar-benar bisa dipercaya. Kalau tidak, habis bayar mahal, koneksinya bisa diputus begitu saja," ujarnya.
Lembaga pemantau NetBlocks melaporkan pemadaman internet telah masuk hari ke-12, dengan konektivitas hanya sekitar 1% dari kondisi normal. Situasi yang sangat memprihatinkan.
"VPN Starlink yang harganya selangit itu butuh waktu lama untuk terhubung. Saya sempat ragu, apa worth it?" kata Shima.
"Tapi setidaknya, saya bisa kasih kabar ke keluarga dan teman di luar negeri bahwa saya belum jadi arang, bahwa saya masih bernapas."
Di balik langit yang kadang putih oleh salju, kadang hitam oleh asap, itulah secuil cerita tentang upaya bertahan. Tentang kehidupan yang dipaksakan berjalan di tengah jalanan yang sepi.
Artikel Terkait
MK Tolak Gugatan Roy Suryo Cs yang Minta Pengecualian Pasal KUHP dan UU ITE
Pemerintah Andalkan Perjanjian ART Hadapi Investigasi Dagang AS
Stasiun Pasar Senen Padat Pemudik, Penumpang Terpaksa Duduk Lesehan
Polisi Tegaskan Gambar Wajah Pelaku Penyiraman KontraS Adalah Hasil Rekayasa AI