“Tapi yang cepat akan mengalahkan yang lambat,” tutur Bahlil.
Ia sendiri mengaku menjadi contoh. Karena cepat, tangguh, dan punya daya juang tinggi, ia bisa menduduki posisi puncak di Partai Golkar. Di sisi lain, ia merasa kesempatan itu terbuka lebar berkat kultur partainya yang inklusif.
Partai Golkar, katanya, menerima semua kader tanpa memandang suku, agama, maupun ras.
“Dalam sejarah politik kita, cuma Partai Golkar yang bisa klaim diri sebagai partai terbuka. Syaratnya ketua umumnya pernah dari Sumatera sampai Papua, ya cuma kami,” ucap Bahlil meyakinkan.
Pesan itu ia sampaikan dengan gaya khasnya: blak-blakan dan penuh semangat. Para santri pun menyimak, mungkin terinspirasi, atau sekadar mengamati sosok yang bercerita tentang terminal angkot hingga ke panggung politik nasional.
Artikel Terkait
Status Gunung Tambora Dinaikkan ke Level Waspada, Warga Dilarang Mendekat
PAN Copot Bupati Rejang Lebong Usai Terjaring OTT KPK
15 Warga Binaan Dipindahkan dari Rutan Palu ke Donggala Atasi Kepadatan
Presiden Prabowo Bantu Turunkan Podium Usai Quraish Shihab Panjatkan Doa Khusus di Istana