Tanah Longsor di Aceh Tengah Ancam Jaringan Listrik dan Lahan Warga

- Minggu, 08 Maret 2026 | 21:15 WIB
Tanah Longsor di Aceh Tengah Ancam Jaringan Listrik dan Lahan Warga

Rekahan tanah itu terus menganga, seolah tak pernah kenyang. Di Desa Pondok Balek, Aceh Tengah, tanah bergerak dengan cara yang menakutkan, menciptakan lubang raksasa yang perlahan tapi pasti melahap segala sesuatu di hadapannya. Bagi warga, ini bukan lagi sekadar fenomena alam, tapi teror yang nyata. Mereka menyaksikan langsung ruang hidup dan sumber penghidupan mereka hilang, terkikis hari demi hari.

Ancaman yang muncul ternyata tak cuma soal rumah dan kebun. Dari sisi infrastruktur, situasinya sudah masuk tahap kritis. Pergerakan tanah yang makin liar memaksa PLN bertindak cepat. Mereka terpaksa membongkar dan memindahkan menara-menara SUTT 150 kV di lokasi tersebut. Langkah darurat ini penting banget, soalnya kalau sampai jaringan interkoneksi ini putus, bisa-bisa pemadaman total menerjang Aceh Tengah dan Bener Meriah. Bayangin aja, krisis energi skala besar bisa terjadi di tengah musibah yang sudah ada.

Namun begitu, di balik semua urusan teknis itu, ada duka yang jauh lebih dalam dan memilukan. Lubang mengerikan ini dengan ganasnya telah membelah hamparan lahan pertanian yang subur. Kebun cabai, kentang, dan kopi yang sebentar lagi panen, lenyap begitu saja. Yang tersisa cuma tanah retak dan jurang yang menganga. Pergerakannya bahkan kian mendekati teras-teras rumah warga, membuat suasana makin mencekam.

Kepahitan itu terpancar jelas dari raut wajah Usman AB, seorang petani yang sudah sepuh.

"Lahan seluas 10 rante itu saya beli tahun 1994 akhir. Dari situlah saya menyekolahkan anak-anak, sampai mereka sarjana dan bisa merantau. Sekarang... lihat saja sendiri keadaannya."

Baginya, tanah itu bukan sekadar angka. Itu adalah saksi bisu perjuangan puluhan tahun, tetes keringat yang menafkahi keluarga dan membuka jalan untuk anak-anaknya.

Di sisi lain, Usman hanyalah satu dari puluhan korban. Mereka semua kini cuma bisa berdiri, tegar meski hati remuk. Ada rasa pasrah, bahwa ini memang takdir alam. Tapi, harapan kepada negara tetap mereka pegang erat. Warga Pondok Balek mendesak pemerintah untuk segera turun tangan. Mereka butuh mitigasi yang serius, dan yang tak kalah penting: kejelasan soal ganti rugi. Bagaimana mereka bisa menyambung hidup, setelah segala jerih payah habis ditelan bumi?

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar