Rekahan tanah itu terus menganga, seolah tak pernah kenyang. Di Desa Pondok Balek, Aceh Tengah, tanah bergerak dengan cara yang menakutkan, menciptakan lubang raksasa yang perlahan tapi pasti melahap segala sesuatu di hadapannya. Bagi warga, ini bukan lagi sekadar fenomena alam, tapi teror yang nyata. Mereka menyaksikan langsung ruang hidup dan sumber penghidupan mereka hilang, terkikis hari demi hari.
Ancaman yang muncul ternyata tak cuma soal rumah dan kebun. Dari sisi infrastruktur, situasinya sudah masuk tahap kritis. Pergerakan tanah yang makin liar memaksa PLN bertindak cepat. Mereka terpaksa membongkar dan memindahkan menara-menara SUTT 150 kV di lokasi tersebut. Langkah darurat ini penting banget, soalnya kalau sampai jaringan interkoneksi ini putus, bisa-bisa pemadaman total menerjang Aceh Tengah dan Bener Meriah. Bayangin aja, krisis energi skala besar bisa terjadi di tengah musibah yang sudah ada.
Namun begitu, di balik semua urusan teknis itu, ada duka yang jauh lebih dalam dan memilukan. Lubang mengerikan ini dengan ganasnya telah membelah hamparan lahan pertanian yang subur. Kebun cabai, kentang, dan kopi yang sebentar lagi panen, lenyap begitu saja. Yang tersisa cuma tanah retak dan jurang yang menganga. Pergerakannya bahkan kian mendekati teras-teras rumah warga, membuat suasana makin mencekam.
Artikel Terkait
Longsor Brebes Putus Jalan dan Robohkan Sekolah, Pemerintah Provinsi Turun Tangan
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob Saat Mudik Lebaran 2026
Lebih dari 3.000 Huntara di Aceh Timur Sudah Dihuni, Pembangunan Sisanya Dikebut
Oknum Anggota DPRD Kota Serang Dilaporkan Lakukan Pelecehan Seksual di Pandeglang