DPR Dorong Peta Jalan Ekspor Beras, Stok Diprediksi Capai 3,5 Juta Ton

- Minggu, 08 Maret 2026 | 18:15 WIB
DPR Dorong Peta Jalan Ekspor Beras, Stok Diprediksi Capai 3,5 Juta Ton

Jakarta – Stok beras kita lagi melimpah. Bahkan, hingga akhir tahun depan, cadangannya diprediksi mencapai 3,53 juta ton. Nah, kondisi ini justru jadi perhatian serius Alex Indra Lukman, Wakil Ketua Komisi IV DPR. Menurutnya, pemerintah harus segera bikin peta jalan ekspor. Jangan sampai surplus yang ada malah berbalik jadi masalah.

“Tantangan kita sekarang ganda,” ujar Alex dalam keterangannya, Minggu (8/3/2026).

“Di satu sisi, biaya produksi harus ditekan. Di sisi lain, kualitas beras harus ditingkatkan. Baru setelah itu kita bisa bersaing di pasar global.”

Soal menekan biaya, Alex melihat ada secercah harapan dari inovasi lokal. Ia menyoroti metode ‘Sawah Pokok Murah’ yang digagas Ir. Djoni, seorang inovator pertanian asal Sumatera Barat. Metode ini disebut-sebut jauh lebih hemat. Kenapa? Karena proses pengolahan tanah yang biasanya makan biaya besar sama sekali tidak dilakukan. Selain itu, cara ini juga tidak bergantung pada pupuk kimia, pestisida, atau fungisida.

“Hasil panennya tetap bagus, bisa bersaing dengan cara konvensional,” katanya meyakinkan.

Tak cuma itu, metode ini juga diklaim lebih tahan banting terhadap cuaca ekstrem, termasuk musim kemarau. Alhasil, risiko gagal panen bisa ditekan. Inovasinya sendiri sudah diterapkan di beberapa kabupaten di Sumbar, seperti Agam, Pesisir Selatan, dan Dharmasraya. Daerah dengan topografi perbukitan dan tanpa hamparan sawah luas itu, kata Alex, justru sudah lama mencapai swasembada beras.

Namun begitu, Alex mengingatkan, produksi yang melimpah saja tidak cukup. Persoalan kualitas masih jadi ganjalan serius. Ia menyoroti tingginya kadar beras patah atau menir yang beredar di pasaran. Beras program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) misalnya, kadar patahannya bisa mencapai 25-40 persen. Angka ini jauh di atas standar negara produsen beras di Asia Tenggara yang hanya sekitar 5 persen.

“Kalau soal kualitas ini dibiarkan, ya percuma. Sulit bagi beras kita untuk menembus pasar internasional,” tegasnya.

Karena itu, Alex mendorong pemerintah untuk melibatkan BRIN dan perguruan tinggi. Riset berkelanjutan mutlak diperlukan untuk meningkatkan mutu beras nasional. Ia juga menilai, strategi distribusi harus dipersiapkan dengan matang. Apalagi, program swasembada pangan terus digenjot sebagai bagian dari agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Produksi didorong lewat ekstensifikasi dan intensifikasi. Tapi daya serap dalam negeri tidak naik signifikan. Kalau stok terus menumpuk, harus ada strategi yang jitu untuk menyalurkannya. Ekspor salah satunya,” papar Alex.

Intinya, tanpa perencanaan yang matang dan menyeluruh, limpahan stok beras ini bukannya jadi berkah. Bisa-bisa malah jadi bumerang bagi ketahanan pangan kita.


Editor: Redaksi

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar