Namun begitu, pernyataan tentang negosiasi ini datang beriringan dengan sinyal keras. Sehari sebelumnya, tepatnya Kamis (5/3) di Gedung Putih, Trump sudah memperbarui ancamannya. Saat menerima kunjungan tim sepak bola Inter Miami, dia mengisyaratkan aksi militer AS di Kuba bisa dilakukan. Syaratnya: setelah perang melawan Iran selesai.
"Kami pikir kami ingin menyelesaikan yang satu ini terlebih dahulu," katanya, merujuk pada konflik dengan Iran. "Tapi itu hanya masalah waktu, sebelum Anda dan banyak orang luar biasa akan kembali ke Kuba."
Pernyataan itu disampaikannya di depan hadirin yang kebanyakan berasal dari Miami, termasuk banyak warga keturunan Kuba. Agaknya, Trump sedang mengirim pesan ganda. Di satu sisi, dia membuka pintu diplomasi. Di sisi lain, ancaman invasi tetap menggantung, menunggu momen yang dianggap tepat.
Isyarat terhadap Kuba ini muncul tak lama setelah Trump membanggakan perang di Iran. Dia mengklaim militer AS dan Israel terus "menghancurkan musuh sepenuhnya". Kurang dari seminggu setelah konflik di Timur Tengah memanas, tampaknya Trump sudah mempertimbangkan langkah besar berikutnya dalam kebijakan luar negerinya.
Memang, Trump dan sekutu-sekutunya bukan sekali dua kali mengancam Havana. Tekanan ekonomi terus ditingkatkan dengan satu tujuan utama: menggulingkan pemerintahan komunis di sana. Kini, dengan pernyataan terbarunya, ketegangan di Karibia itu sepertinya akan memasuki babak baru. Entah itu di meja perundingan, atau di medan yang lain.
Artikel Terkait
Gempa M5.7 Guncang Lebong Bengkulu, Dirasakan hingga Skala IV MMI
Hujan Deras Rendam Beberapa Ruas Tol Jakarta-Tangerang, Arus Lalu Lintas Terganggu
Polri Salurkan Alsintan dan Bibit untuk 215 Petani Cikarang
Ajax Amsterdam Tumbang 1-3 dari Groningen di Eredivisie