Kondisi semacam itu sangat mengkhawatirkan bagi negara berkembang macam Indonesia. Soalnya, stabilitas global itu penting banget buat menjaga pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, dan tentu saja kesejahteraan masyarakat kita.
Dari sudut pandang HAM internasional, Mardiono juga angkat suara. Setiap aksi militer yang menimbulkan korban sipil dan menghancurkan fasilitas publik harus jadi perhatian serius dunia internasional. Hak untuk hidup dan rasa aman itu prinsip universal. Jangan sampai dikorbankan hanya untuk kepentingan politik sesaat.
“Kalau pelanggaran kemanusiaan ini dibiarkan terus, ya sistem internasional kita nanti enggak ada lagi kredibilitasnya. Habis itu perlindungan untuk manusia biasa,” jelasnya.
Lantas, apa yang bisa Indonesia lakukan? Mardiono melihat peluang. Di tengah eskalasi konflik global, Indonesia bisa ambil peran yang lebih konstruktif. Diplomasi harus jadi ujung tombak, sementara jalur komunikasi antarnegara harus tetap terbuka lebar.
Reputasi kita sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, ditambah konsistensi menjalankan politik luar negeri bebas aktif, bisa jadi modal berharga. Modal untuk mendorong dialog yang lebih inklusif di panggung dunia.
“Polarisasi global sekarang ini tajam sekali. Nah, di situlah peran Indonesia sebagai jembatan komunikasi sangat dibutuhkan,” pungkas Mardiono menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Polri Siap Tindak Tegas Pembakar Lahan, 21 Tersangka Sudah Ditentukan
Forum Warga Desak Pemerintah Segera Terbitkan PP Cukai Minuman Berpemanis
Riset Ungkap Mayoritas Aplikasi Bencana Tak Aktif, Pakar Desak Sistem Terpadu
Pemuda Tewas Terlindas Bus Transjakarta Usai Tabrak Pembatas di Gunung Sahari