Intinya, kekhusyukan Nyepi harus tetap terjaga. Di sisi lain, hak umat Islam untuk bertakbir juga diakomodasi. Ini semua demi keharmonisan. Bayangkan saja, Nyepi adalah hari yang sakral penuh keheningan tidak boleh ada kebisingan atau kendaraan keluar-masuk.
Nah, masalahnya muncul karena pada malam yang sama, umat Islam justru merayakan malam kemenangan dengan takbiran. Situasi yang rentan gesekan ini akhirnya dicarikan solusi. Kementerian Agama turun tangan, berkoordinasi intens untuk mencari titik temu.
"Beberapa tempat ya tanggal 19 (Maret) itu kan hari Nyepi. Hari Nyepi kita tahu tidak boleh ada suara berisik, tidak boleh ada kendaraan," ujar Nasaruddin menggambarkan dilema itu. "Padahal malamnya ada temen-temen kita takbir."
Jadi, itulah komprominya. Takbir boleh berkumandang, tapi hanya dari mulut ke mulut, tanpa alat bantu yang bisa mengganggu ketenangan Nyepi. Sebuah langkah kecil yang diharapkan bisa menjaga kerukunan yang sudah lama terjalin.
Artikel Terkait
TransJakarta Siap Tambah Frekuensi Bus ke Ragunan Saat Lebaran 2026
Presiden Macron Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle ke Mediterania Timur
Iran Luncurkan Rudal ke Israel, Sistem Pertahanan Aktif di Tengah Eskalasi Konflik
Presiden Prabowo Minta Seluruh Menteri Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah