Iran Ancam Balas Serangan AS-Israel Usai Klaim Kematian Khamenei dan Ratusan Korban Sipil

- Rabu, 04 Maret 2026 | 11:45 WIB
Iran Ancam Balas Serangan AS-Israel Usai Klaim Kematian Khamenei dan Ratusan Korban Sipil

Dari Teheran, ancaman balasan bergema keras. Korps Garda Revolusi Islam Iran, atau IRGC, menyatakan dengan tegas mereka takkan tinggal diam. Serangan yang menimpa fasilitas militer dan sipil mereka, kata mereka, pasti akan dibalas.

Pernyataan itu disiarkan langsung oleh stasiun TV pemerintah IRIB, Selasa lalu. Nadanya keras, penuh amarah.

"Para penjahat Amerika dan Israel harus paham," bunyi pernyataan itu, "tak satu pun kejahatan dan pembunuhan mereka akan dibiarkan tanpa balasan. Perang melawan AS dan rezim Israel akan berlanjut."

IRGC tak sekadar mengancam. Mereka melontarkan tuduhan pedas. Menurut mereka, serangan AS-Israel sengaja menyasar tempat-tempat sipil sekolah, rumah sakit, bahkan stadion dan restoran dengan tujuan menebar kepanikan. Angka korban jiwa warga sipil, klaim mereka, sudah melampaui 700 orang. Sebuah angka yang mengerikan.

Rincian kejadian pun mereka beberkan untuk menguatkan tuduhan. Di Oshnavieh, sebuah bangunan tempat tinggal dihantam rudal Tomahawk. Seluruh anggota satu keluarga dilaporkan tewas. Lalu di Salman, serangan terhadap sebuah mobil pribadi menewaskan lima orang. Ada juga kisah pilu dari distrik Kasemiyeh di Urmia, di mana sebuah rumah hancur dan menewaskan pasangan lanjut usia di dalamnya.

Semua ini, menurut narasi IRGC, adalah bagian dari serangan besar AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu. Serangan itu menyasar sejumlah target di Iran, termasuk ibukota Teheran, dan meninggalkan jejak kehancuran serta korban di antara warga biasa. Yang paling mengguncang, televisi pemerintah Iran sendiri mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, gugur dalam serangan tersebut.

Menanggapi pukulan itu, Iran tak tinggal diam. Mereka sudah melancarkan serangan balasan dengan rudal, mengarahkannya ke wilayah Israel dan juga fasilitas militer AS yang bertebaran di Timur Tengah. Situasinya memanas dengan cepat, dan ancaman dari Garda Revolusi sepertinya bukan sekadar gertakan belaka.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar