"Kita semua paham itu kemarahan dan menyasar titik-titik yang diduga menjadi tempat tentara Amerika. Namun apapun, serangan itu justru akan memperburuk situasi," ujarnya.
Lalu, apa solusinya? PBNU mendesak masyarakat internasional untuk segera bergerak. Mereka harus berkonsolidasi di bawah PBB untuk menegakkan hukum internasional yang efektif. Tanpa itu, kekacauan akan terus berlanjut.
Pesan khusus juga disampaikan kepada Pemerintah Indonesia. Gus Yahya menitipkan mandat agar Indonesia tak tinggal diam. Posisi strategis negeri ini di panggung dunia harus dimanfaatkan.
"Kami juga mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam mengupayakan deeskalasi konflik menuju resolusi damai yang beradab dan bermartabat. Ini amanat konstitusi kita," tegasnya dengan nada serius.
Harapannya jelas: Indonesia bisa jadi jembatan. Mendesak pihak-pihak yang bertikai, terutama AS dan Israel, untuk berhenti. Mengalihkan segalanya ke meja diplomasi. Karena jalan damai, meski berliku, tetap satu-satunya pilihan yang bermartabat.
Artikel Terkait
Dubes Iran Desak D-8 Kutuk Serangan AS-Israel Jelang KTT di Jakarta
Bank Jambi Lakukan Rebuild Sistem Menyeluruh Usai Gangguan, Layanan Digital Masih Ditutup
Presiden Iran Ancam Balas Serangan ke Sekolah dan Rumah Sakit di Teheran
ANTARA: BYD Siapkan Seal 07 EV, Qualcombe Luncurkan Chip Smartwatch, dan Anjuran Servis Kendaraan Jelang Mudik