Sementara penyidikan berjalan, penyebab kematian si anak gajah pun semakin jelas. Di lokasi yang sama, polisi menemukan jeratan tali. Jerat ilegal itulah yang diduga membuat gajah terluka, terinfeksi, dan akhirnya mati.
"Jerat tersebut dipasang secara ilegal dan menjadi penyebab utama luka fatal," ucap Kombes Ade.
Namun begitu, penyidik belum berhenti. Mereka masih mendalami kemungkinan ada pihak lain yang terlibat, terutama terkait jaringan pemasang jerat di kawasan itu. Prosesnya masih berjalan.
Kombes Ade menegaskan, kasus ini adalah bagian dari komitmen tegas mereka. Tesso Nilo adalah kawasan strategis yang harus dijaga. Setiap pelanggaran, apapun bentuknya, akan ditindak.
"Ini bukan cuma soal satu perkara pidana," jelasnya.
"Lebih dari itu, ini tentang upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi dan memastikan hukum benar-benar bekerja untuk melindungi ekosistem di dalamnya."
Kasus ini kembali menyoroti ancaman serius di Tesso Nilo. Perambahan dan aktivitas ilegal terus menggerogoti habitat penting bagi gajah Sumatera yang populasinya kian terdesak. Polda Riau berjanji penyidikan akan dilakukan secara profesional, mengandalkan bukti, saksi, dan peta yang presisi. Harapannya, hukum yang ditegakkan kali ini bisa menjadi efek jera.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Stok BBM Aman 20 Hari ke Depan Meski Selat Hormuz Ditutup
Anggota DPR Bantah Program Makan Bergizi Gerus Dana Infrastruktur Pendidikan
Hillcon Masuk Papan Pemantauan Khusus Tahap II, Saham Anjlok 77% dalam Sebulan
Pemerintah Kalsel Pastikan Stok Pangan Aman hingga Lebaran Meski Harga Naik